Cara Anak Muda Kelola Keuangan pada 2026: Gaya Hidup Jalan, Uang Tetap Aman
Cara Anak Muda Kelola Keuangan pada 2026: Gaya Hidup Jalan, Uang Tetap Aman
KABARINDO, SURABAYA - Ngopi sepulang kerja, langganan platform hiburan, belanja daring sampai transaksi harian lewat ponsel, kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak muda Indonesia.
Gaya hidup yang serba cepat dan praktis ini berjalan beriringan dengan pesatnya adopsi layanan keuangan digital. Hampir seluruh aktivitas keuangan dapat dilakukan hanya dalam beberapa sentuhan layar seperti langganan platform hiburan, belanja daring sampai transaksi harian.
Di tengah arus transaksi yang kian aktif tersebut, tantangan anak muda bukan lagi sekadar menahan konsumsi, melainkan mengelola uang secara lebih sadar, agar gaya hidup tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan jangka menengah dan panjang.
“Anak muda hari ini sangat aktif dan produktif. Tantangannya bukan sekedar menahan konsumsi, melainkan mengelola uang dengan lebih sadar dan terencana. Dengan pengelolaan yang tepat, gaya hidup bisa tetap berjalan tanpa mengorbankan stabilitas keuangan,” ujar Direktur Keuangan SeaBank Indonesia, Lindawati Octaviani.
Secara nasional, kesadaran akan pentingnya pengelolaan keuangan juga menunjukkan tren positif. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46%. Angka ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang memahami produk dan layanan keuangan. Namun peningkatan literasi perlu diiringi dengan praktik pengelolaan keuangan yang konsisten, terutama di kalangan generasi muda yang aktif bertransaksi secara digital.
Kemudahan transaksi digital memang memberi ruang bagi anak muda untuk menikmati hidup dengan lebih fleksibel. Namun di balik kenyamanan tersebut, pengelolaan keuangan jangka menengah kerap menjadi tantangan tersendiri. Fokus pada kebutuhan harian dan gaya hidup sering kali membuat perencanaan keuangan ke depan berjalan tanpa disadari.
Keseharian ini tercermin dari kebiasaan banyak anak muda yang mengandalkan satu rekening utama untuk berbagai kebutuhan, mulai dari transaksi rutin hingga hiburan. Tanpa pemisahan dana yang jelas, arus pengeluaran harian berpotensi menyisakan ruang yang semakin sempit bagi simpanan yang lebih terencana.
“Pemisahan rekening untuk kebutuhan harian dan simpanan jangka menengah bisa membantu anak muda menata keuangan tanpa harus mengorbankan gaya hidup,” lanjut Lindawati.
Menurutnya, tabungan digital berperan sebagai pusat kendali transaksi harian, sementara simpanan berjangka seperti deposito dapat menjadi alat bantu disiplin finansial, karena dana tidak mudah dicairkan secara spontan.
Pendekatan ini sejalan dengan cara Gen Z dan Milenial yang memanfaatkan bank digital sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Kemudahan, kecepatan dan transparansi menjadi alasan utama bank digital semakin lekat dengan keseharian mereka. Tren ini tercermin dari rata-rata transaksi harian di Seabank yang tercatat lebih dari 10 juta transaksi per hari.
Untuk dana yang tidak digunakan dalam waktu dekat, deposito digital mulai dipandang sebagai pilihan yang relevan untuk menjaga keseimbangan antara menikmati hidup hari ini dan menyiapkan kebutuhan esok. Karakter deposito yang berjangka dan menawarkan imbal hasil yang stabil, membantu menahan dorongan konsumsi impulsif di tengah derasnya transaksi digital.
“Deposito digital menjadi produk simpanan, juga alat bantu membangun kebiasaan finansial yang sehat. Ini cocok bagi anak muda yang ingin tetap menikmati hidup, sambil memastikan sebagian uangnya bekerja dengan aman,” ujar Lindawati.
Di balik kemudahan dan kepraktisan layanan digital, aspek keamanan tetap menjadi pondasi utama. Pada akhirnya, gaya hidup modern tidak harus menjadi musuh keuangan. Dengan pendekatan yang lebih sadar dan terencana, anak muda dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa rasa khawatir, sambil menyiapkan pondasi keuangan yang lebih stabil untuk masa depan.
Foto: istimewa
Comments ( 0 )