Dana Kelolaan Industri Reksa Dana di Indonesia Capai Rp.679,24 Triliun pada Akhir 2025

Dana Kelolaan Industri Reksa Dana di Indonesia Capai Rp.679,24 Triliun pada Akhir 2025

Dana Kelolaan Industri Reksa Dana di Indonesia Capai Rp.679,24 Triliun pada Akhir 2025

Tumbuh 25,06% dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp.502,92 triliun

KABARINDO, SURABAYA - Dana kelolaan (AUM) industri Reksa Dana di Indonesia pada akhir tahun 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 35,06% menjadi Rp.679,24 triliun, jika dibandingkan akhir tahun 2024 sebesar Rp.502,92 triliun. Sedangkan secara total dana kelolaan învestasi mengalami kenaikan sebesar 25,19% dari Rp.804,87 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp. 1.007,65 triliun pada akhir 2025.

Data tersebut disampaikan oleh Ketua Presidium Dewan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Lolita Lilana, dalam kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana (SOSEDU) APRDI 2026 di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur, pada Selasa (7/4/2026).

Lolita mengatakan, dana kelolaan itersebut merupakan yang tertinggi setelah dalam kurun waktu 5 tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang stagnan. Pertumbuhan AUM Reksa Dana yang paling tinggi pada 2025 adalah jenis Reksa Dana Pendapatan Tetap, disusul jenis Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Terproteksi dan Reksa Dana Saham. Sedangkan jenis Reksa Dana yang mengalami penurunan adalah Reksa Dana Indeks.

“Hal ini menunjukkan profil investor Indonesia yang cenderung masih konservatif – moderat dalam berinvestasi,” ujarnya.

Lolita menyebutkan, kinerja Reksa Dana tertinggi berdasarkan indeks Reksa Dana dari data Pasardana.id pada akhir 2025 adalah Reksa Dana Saham sebesar 17,23%, Reksa Dana Campuran 12,48%, lalu Reksa Dana Pendapatan Tetap sebesar 6,96% dan Reksa Dana Pasar Uang sebesar 3,18%. Pencapaian kinerja Reksa Dana Saham ini sejalan dengan kinerja positif pasar saham Indonesia yang ditandai dengan pertumbuhan IHSG 2025 sebesar 22,13%.

Sedangkan dari sisi jumlah investor Reksa Dana terus menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan data SID dari KSEI hingga akhir 2025 sebanyak 19,2 juta SID, tumbuh sebesar 3,23% dari 18,6 juta SID pada akhir 2024.

“Yang menarik dari jumlah investor tersebut didominasi investor muda yang berusia di bawah 30 tahun, yang mencapai 54,24% dari total investor. Hal ini menunjukkan semakin banyak generasi muda Indonesia yang paham berinvestasi dan sudah memulainya sejak usia muda,” ujar Lolita.

Yunita Linda Sari, Kepala Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, menambahkan industri Reksa Dana di Jatim juga menunjukkan pertumbuhan yang siginifikan. Tercatat total transaksi Reksa Dana mencapai sekitar Rp.4,96 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh 54,60% (YoY). Sedangkan pertumbuhan investor Reksa Dana retail mencapai sekitar 141.861 SID, tumbuh 13,52% (YoY).

Meski demikian, Yunita menilai angka tersebut masih jauh dari potensi sebenarnya jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Jatim. Karena itu, diperlukan edukasi dan sosialisasi untuk memperluas basis investor dengan meluncurkan program SOSEDU APRDI 2026 yang diawali dengan kegiatan Road to Pekan Reksa Dana 2026 di beberapa kota.

“Diperlukan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap karakteristik produk Reksa Dana, termasuk kesesuaian dengan profil risiko dan tujuan investasi,” ujar Yunita.