Dokter Swasta Tolak Temui Pilot-pilot di Hong Kong 

Dokter Swasta Tolak Temui Pilot-pilot di Hong Kong 

KABARINDO, HONG KONG – Investigasi Bloomberg mengungkapkan bahwa banyak pilot dan awak pesawat di Hong Kong yang mengalami kesulitan mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan karena khawatir akan sanksi COVID-19.

Seorang pilot Cathay Pacific Airways yang khawatir tekanan darah tinggi yang baru diketahuinya berkembang menjadi aneurisma mengatakan bahwa dia tidak bisa membuat janji temu dengan ahli jantung untuk pemeriksaan lanjut, bahkan setelah menunjukkan hasil negatif dari 10 kali tes Covid.  

Dua klinik menolak menerimanya setelah mengetahui pekerjaannya, dengan mengatakan dokter lebih suka janji temu kemudian hari walaupun ia sudah tiga minggu lebih tidak terbang.

"Profesi saya didiskriminasi di Hong Kong," katanya, yang menolak disebutkan namanya, karena dia masih mencari pengobatan. "Mereka telah memberikan stigma ini pada awak pesawat."

Seorang pilot yang lain tidak dapat memeriksakan sakit ginjalnya karena dia tidak memenuhi kebijakan klinis izin [telah bebas dari] perjalanan [selama] dua minggu.

Dalam satu kasus, seorang anak sempat ditolak perawatannya setelah mengalami kecelakaan karena ayahnya yang seorang pilot baru kembali dari penerbangannya. Padahal sang anak tidak bepergian kemana-mana.

Pilot Cathay Pacific lainnya mengatakan terapis putrinya yang berusia empat tahun meminta untuk melihat daftar terbangnya sebelum menjadwalkan sesi dengan sang putri.

Risiko Lebih Tinggi

Saat ini, Hong Kong mengharuskan sebagian besar pelancong menghabiskan 21 hari di karantina pada saat kedatangan, sedangkan awak pesawat dapat meninggalkan isolasi lebih cepat.

Namun, hal ini menimbulkan masalah bagi mereka yang membutuhkan perawatan medis mendesak karena klinik swasta berhati-hati untuk menerima mereka dalam jangka waktu tersebut, bahkan meskipun tes COVID-19 mereka hasilnya negatif.

Kebijakan pembatasan COVID-19 yang sangat ketat di Hong Kong memang dapat menghalangi beberapa klinik untuk menerima pasien 'berisiko lebih tinggi'," tulis Dr David Owens, mitra pendiri OT&P Healthcare, penyedia medis swasta terkemuka di Hong Kong, dalam pesan teksnya.

"'Risiko lebih tinggi' tidak menyiratkan risiko klinis yang lebih tinggi, melainkan individu yang secara teoritis dapat menimbulkan risiko karantina yang lebih tinggi kepada orang lain karena pekerjaan atau riwayat perjalanan mereka," katanya. "Mereka mungkin orang yang sehat dan bugar, seperti awak pesawat atau bahkan anggota keluarga awak pesawat."

Tidaklah Ilegal

Banyak pekerja maskapai penerbangan di Hong Kong cenderung menggunakan klinik swasta, karena biayanya ditanggung oleh polis asuransi perusahaan dan waktu tunggu yang lebih singkat.

Seorang juru bicara Cathay Pacific mengatakan dalam tanggapan email bahwa maskapai itu menyadari kesulitan yang sedang dialami kru mereka, dan mereka siap membantu serta mendukung kebutuhan medis mereka.

Tidaklah ilegal bagi praktisi swasta untuk menetapkan kebijakan mereka sendiri, kata Mr Tim Pang, juru bicara Asosiasi Hak Pasien. Sementara rumah sakit umum diwajibkan oleh hukum untuk menerima pasien, tidak ada aturan seperti itu untuk fasilitas swasta.

Pasien dapat mengadu ke Departemen Kesehatan jika mereka yakin telah diperlakukan tidak adil, kata Pang.

"Situasinya sangat disayangkan," kata Pang. "[Situasi] Ini seperti menjadikan pilot sebagaii kambing hitam."

Semua pilot yang terkena dampak yang berbicara kepada Bloomberg News meminta untuk tidak disebutkan namanya karena takut akan akibatnya.

***(Sumber dan foto: Bloomberg/The Straits Times/AFP)