“Kolong Mayit” Ceritakan tentang Kru Dokumenter yang Meliput acara Nyambat Karuhun
“Kolong Mayit” Ceritakan tentang Kru Dokumenter yang Meliput acara Nyambat Karuhun
Diadaptasi dari sebuah thread dari forum Kaskus berjudul Rarasukma
KABARINDO, SURABAYA - Kolong Mayit dijadwalkan segera tayang di bioskop-bioskop tahun ini. Kolong Mayit adalah sebuah film produksi Rumah Semut Film dan Sultra Sinema Investama yang diadaptasi dari sebuah thread dari forum Kaskus berjudul Rarasukma karya M. Shiddig.
Skenarionya kemudian dikembangkan oleh tim penulis yang dipimpin oleh Aria Gardhadipura yang sebelumnya juga sukses menulis film Lift yang baru saja tayang di bioskop. Film ini di sutradarai oleh Irham Acho Bahtiar.
Syutingnya berlokasi di sekitar kaki Gunung Salak Bogor. Film ini mengambil latar tanah Pasundan meskipun dibuat dalam kemasan fiksi dengan sebagian memakai Bahasa Sunda. Kolong Mayit dibintangi oleh Samuel Rizal, Leoni Vitria, Cahya Arynagara, Fuad Idris dan Tania Anjani.
Irham menuturkan, Kolong Mayit ceritakan tentang 3 orang kru dokumenter yang ditugaskan meliput acara setiap 20 tahunan “Nyambat Karuhun” di sebuah dukuh bernama Kolong Mayit. Di sebut Kolong Mayit karena di perkampungan ini rumah-rumahnya berbentuk panggung dan di bawah kolong rumah mereka ada banyak kuburan leluhur turun temurun dikuburkan disitu,
“Nyambat Karuhun merupakan ritual untuk menyucikan kembali kuburan para leluhur tersebut agar arwah mereka tidak keluar mengganggu,” jelas Irham.
Salah satu ritual yang dilanggar membuat para kru harus menghadapi sebuah ancaman nyata yang selama ini tak pernah mereka bayangkan.
Irham menambahkan, Kolong Mayit membawa genre horor, namun agak berbeda dari horor biasanya, sebab penampilan hantu lokal jenis pocong di Indonesia atau yang disebut Mayit dalam film ini di buat unik dan berbeda dari kemunculan biasanya.
Jika biasanya pocong meneror dengan cara menakut nakuti orang semata secara tak kasat mata, disini pocong direvolusi menjadi lebih agresif, kuat dan menyerang tanpa batasan dengan cara yang brutal. Ini mengingatkan pada sosok zombie klasik yang dahulunya berjalan lambat hingga akhirnya direvolusi menjadi super cepat di beberapa film bertema zombie saat ini. Kolong Mayit menandai bagaimana pocong yang biasanya kita kenal hanya muncul secara jumpscare dengan fisiknya untuk menakuti, namun kini diberikan tampilan yang lebih nyata dengan cara mengejar hingga memangsa tanpa bisa dihentikan dengan cara biasa.
Kolong Mayit menjadi persembahan unik di genre horor Indonesia yang memperlihatkan beragamnya jenis hantu lokal multi etnik yang sudah sering diangkat, namun dengan eksplorasi berbeda. Film ini mampu membuat entitas ini menjadi sosok unik dan baru yang belum pernah dilihat. Ini juga menjadi fenomena baru ketika zombie lokal dieksplorasi dengan menggunakan sosok fisik pocong atau mayat hidup.
Irham mengatakan, syutingnya berlokasi di sekitar kaki Gunung Salak Bogor. Persiapannya butuh waktu berjam-jam untuk melakukan make up efek pada pocong pocong tersebut. Ini menjadikan film Kolong Mayit bukan sekedar horor, tetapi juga ada unsur actionnya.
"Totalitas dalam pengerjaan film ini terbilang serius. Set seluruh rumah kampungnya dibangun khusus 6 bulan sebelumnya di sebuah kawasan hutan yang dibersihkan demi menciptakan ekslusifitas suasana kampung yang terisolir dengan atmosfer sepi. Demi memberikan sesuatu hiburan baru yang berbeda, untuk salah satu adegannya bahkan sampai melibatkan hampir 100 sosok pocong/mayit secara serempak bersamaan," ujar Irham.
Karena beberapa adegan kekerasan real yang ditampilkan cukup eksplisit, maka LSF memberikan STLS film Kolong Mayit untuk kategori 17 tahun.
Foto: istimewa
Comments ( 0 )