Penggundulan Hutan Membayangi Produksi Biodiesel Indonesia

Penggundulan Hutan Membayangi Produksi Biodiesel Indonesia

KABARINDO, Jakarta - Dilansir dari laporan BBC, Rabu (8/12), Kebijakan pemerintah yang menetapkan bahwa semua bahan bakar diesel harus mengandung campuran setidaknya 30% biodiesel - untuk naik menjadi 50% pada tahun 2025 akan membutuhkan peningkatan substansial dalam lahan yang digunakan untuk produksi bahan bakar hayati (biofuel), mungkin sebanyak 1,2 juta hektar - sekitar seperempat dari semua budidaya kelapa sawit di negara ini.

Secara teori, bahan bakar hayati mestinya mengurangi emisi dibandingkan dengan bahan bakar fosil karena ketika tanaman untuk bahan bakar hayati tumbuh, mereka menyerap karbon dari atmosfer yang kemudian dilepaskan melalui pembakaran, yang berarti tidak ada peningkatan emisi bersih. Tanaman kemudian dapat ditanam kembali dan prosesnya dimulai lagi.

Namun, masalah muncul karena pembukaan lahan seperti penggundulan hutan yang diperlukan untuk menanam tanaman ini.

Hutan adalah salah satu sistem yang paling efektif dalam menyerap CO2 dari atmosfer, jauh lebih efektif daripada tanaman. Menggantinya dengan tanaman biofuel berarti lebih sedikit CO2 yang diserap, dan ini menyebabkan peningkatan gas rumah kaca, yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

Dibandingkan dengan menggunakan lahan pertanian yang ada, ketika lahan hutan dibuka untuk menanam kedelai atau kelapa sawit, emisi yang dihasilkan untuk setiap unit energi pada akhirnya menjadi lebih banyak daripada solar.

Pemerintah telah mencoba menerapkan langkah-langkah untuk pengelolaan hutan secara lestari. Namun kenyataannya, awal tahun ini pemerintah gagal memperpanjang larangan perkebunan kelapa sawit baru.

Indonesia berjanji untuk mengakhiri deforestasi pada tahun 2030 di COP26, tetapi setelah itu, menteri lingkungannya mengatakan janji itu "jelas tidak pantas dan tidak adil".

Baca juga:
Apa itu COP26? Mengapa COP26 Penting untuk Diketahui?

Agenda COP26 di Glasgow, 2021

Dalam wawancara dengan BBC pada bulan Oktober lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo membela rekor deforestasi negaranya, dan mengatakan telah "merehabilitasi banyak hektar" hutan.

Memang benar tingkat deforestasi tahunan telah turun. Namun Indonesia terus menjadi salah satu dari tiga negara teratas dunia untuk jumlah kehilangan hutan, terutama karena perkebunan kelapa sawit baru.

Jerman, Brasil, Thailand, serta Uni Eropa telah mengubah kebijakan mereka terkait bahan bakar hayati dengan alasan yang berbeda-beda.

Global Forest Watch mengatakan ada sekitar 50 hingga 60 tanaman lain yang lebih ramah lingkungan selain kelapa sawit, seperti kemiri dan kelapa, yang dapat digunakan di Indonesia. *** (Sumber: BBC; Foto: CIFOR)