Dilmah Mixology Playoff 2026: Kreativitas, Teh dan Talenta Bertemu di Satu Panggung
Dilmah Mixology Playoff 2026: Kreativitas, Teh dan Talenta Bertemu di Satu Panggung
Dorong para bartender racik minuman berbasis teh yang spesial dan enak dinikmati
KABARINDO, SURABAYA – Teh tak hanya dinikmati sebagai minuman biasa sehari-hari, namun bisa diracik menjadi minuman dengan cita rasa unik. Hal ini tentu membutuhkan kreativitas dan inovasi untuk menghasilkan minuman yang spesial.
Dilmah Mixology Playoff memberikan kesempatan untuk menunjukkan kepiawaian meracik minuman berbasis teh yang dikombinasi dengan bahan lainnya. Ajang ini bukan sekadar kompetisi, namun menjadi ruang bertemunya berbagai cerita, latar belakang dan kreativitas dalam satu panggung yang sama.
Eliawati Erly, Vice President of PT David Roy Indonesia, distributor tunggal Dilmah di Indonesia, mengatakan Dilmah Mixology Playoff diselenggarakan sejak 2013. Tahun ini diselenggarakan di Aloft Hotel, Pakuwon City Mall 2, Surabaya pada 15-16 April 2026 yang bertajuk Mixology Meets Innovation.
“Dilmah Mixology Playoff 2026 merupakan wadah untuk mendorong perkembangan industri minuman berbasis teh di Indonesia, sekaligus memperkenalkan inovasi dalam teknik dan presentasi mixology yang terus berkembang. Di sinilah ide bertemu teknik, dan passion bertemu peluang,” ujarnya.
Kompetisi tersebut diikuti 37 peserta dari Surabaya, Malang, Semarang, Jogja, Bandung, Jakarta dan Bali yang siap menunjukkan interpretasi terbaik mereka dalam dunia mixology berbasis teh. Tahun ini, kompetisi bisa diikuti existing customers maupun umum. Langkah ini menjadi bagian dari upaya untuk memberikan ruang lebih luas bagi para pelaku industri, profesional maupun talenta baru di dunia mixology.
Keberagaman inilah yang menjadi kekuatan utama tahun ini. Perbedaan pengalaman, gaya hingga perspektif justru melahirkan energi baru, mendorong inovasi, keberanian bereksperimen, dan redefinisi bagaimana teh dapat diolah menjadi karya mixology yang modern dan relevan.
Menurut Eliawati, ada beberapa peserta yang pernah mengikuti kompetisi sebelumnya. Mereka ingin menunjukkan kemampuan yang lebih mumpuni dengan menghadirkan racikan baru dan meraih prestasi.
“Banyak yang antusias menunggu kompetisi ini. Banyak bartender yang ingin ikut. Tahun ini, harus ada bahan lokal yang digunakan,” ujarnya.
Untuk memastikan kualitas penilaian, kompetisi ini menghadirkan dua juri yang tidak asing di ajang mixology yaitu Agung Prabowo dan Jay Gray. Agung adalah Executive Professional Bartender dan Founder Penicilin Bar & Lockdown Bar di Hongkong. Ia seorang mixologist Indonesia yang dikenal dengan pendekatan kreatifnya dalam mengolah bahan lokal menjadi minuman. Sedangkan Jay Gray adalah mixology visionary & Dilmah Ambassador, figur internasional yang memiliki jam terbang tinggi di dunia mixology global. Kehadiran mereka ini diharapkan dapat memberikan penilaian yang objektif serta insight berharga bagi para peserta.
Mocktail & cocktail
Jay mengatakan, mixology tidak selalu berkaitan dengan minuman beralkohol, namun bisa pula diaplikasikan pada minuman non-alkohol, termasuk dari teh.
“Minuman non-alkohol tak kalah enak dan populer. Misalnya teh yang disukai banyak orang di berbagai negara dan menyegarkan untuk dinikmati,” ujarnya.
Agung menambahkan, banyak orang mulai menerapkan gaya hidup sehat dengan minum teh. Karena itu, teh dikonsumsi makin banyak orang di seluruh dunia. Teh juga bisa dikombinasi dengan bahan lain, sehingga menghasilkan inovasi dan cita rasa yang unik.
“Bikin minuman dari teh itu menantang. Teh bisa dikombinasi dengan bahan lain jadi minuman yang inovatif, tapi harus ada keseimbangan rasa antara teh dengan bahan lain yang dikombinasikan,” ujarnya.
Agung melihat teknik dan inovasi para peserta kompetisi dalam meracik minuman berbasis teh terus berkembang dari tahun ke tahun. Mereka paham cara meracik dan kombinasinya untuk menghadirkan minuman yang kreatif, inovatif dan spesial.
Eliawati mengatakan, bartender ditantang untuk menghadirkan minuman berbasis teh yang enak dinikmati. Penyajian juga penting, begitu pula story behind minuman tersebut. Ia mendorong para bartender di Indonesia untuk meningkatkan kemampuan dan mencetak prestasi menjadi bartender internasional.
Jay menambahkan, tekstur dan aroma sangat penting dalam meracik minuman berbasis teh. Penyajiannya juga tak boleh disepelekan.
Tiap peserta kompetisi diberi waktu 10 menit untuk membuat mocktail dan cocktail untuk disajikan kepada kedua juri. Kriteria penilaiannya yaitu taste, balance (keseimbangan rasa), aroma dan after taste. Juga bagaimana minuman tersebut bisa diaplikasikan oleh bartender di negara lain.
Sejumlah peserta meracik minuman dengan mengombinasikan dengan bahan tradisional. Salah satu peserta, Risky Galang Ramadhan dari Anonimo Bar, JW Marriott Surabaya, meracik Si Enom yang dikombinasi dengan bahan herbal di antaranya tamarine dan sinom.
Minuman hasil racikan para peserta memang beragam dengan nama-nama yang unik. Ada Madu-Earl Noir Whiskey, Measured Venom, Antidote Elixir, Monaz Fizz, The Mumbai, The Peoples, Called By The Shore, Last Call, Amber Glows, It’s Not Boulevardier, Bird Nest Cosmo, Tides & Treats, Negroni Pecinan, Nonamanis Highball, Triple Java, Surabaya Heritage, Lapis Tunjungan, Gemilang, Embun Pagi, Padi & Puspa, Tolak Angin, Serai Soleli yang dikombinasi dengan sereh, Sura-The Legen Cha Legacy yang dikombinasi dengan Legen, dan Sambalea yang dikombinasikan dengan sambal.
Kompetisi Dilmah Mixology Playoff 2026 menghasilkan tiga pemenang yaitu 3rd Winner adalah Aditia Eka Kuasa dari Artotel Gelora Senayan Jakarta, 2nd Winner Muhammad Rizal Alkhabibi dari The Sira Luxury Lombok dan 1st Winner Jenry Finanta dari Indigo Hotel Bandung.
150 lebih varian Dilmah
Eliawati menuturkan, ia mengenal Dilmah sejak 2003. Brand teh ini berasal dari Srilanka yang diambil dari nama dua putra foundernya, Dilham dan Malik.
“Dilmah tersedia di berbagai tempat, mulai dari kafe, resto, hotel bahkan disajikan banyak rumah tangga. Dilmah membeli teh dari para petani, sehingga memberdayakan mereka. Produknya otentik dan fresh. Setelah dipetik dan diproses, segera didistribusikan. Ini untuk menjamin kualitasnya dan menjaga cita rasanya,” paparnya.
Eliawati mengatakan, Dilmah memiliki sekitar 150 varian, sehingga memberikan beragam pilihan bagi para pecinta teh di seluruh dunia. Di supermarket di Indonesia umumnya dijual kategori every day tea yang lebih dikenal dan disajikan sehari-hari. Sementara di kafe, resto dan hotel ada Elixir dan kategori lainnya. Varian yang menjadi favorit di Indonesia adalah English Breakfast dan Jasmine. Fuit tea juga digemari. Saat Covid yang lalu dan sekarang ini, yang banyak disukai adalah Cammomile dan Lychee.
“Soal pilihan bergantung pada masing-masing. Teh Dilmah bisa disajikan panas ataupun dingin sesuai selera dan cuaca. Misalnya Ice Lychee Tea yang segar, pas untuk dinikmati saat cuaca panas seperti di Surabaya,” ujarnya.
Comments ( 0 )