Jangan Abaikan Sinyal dari Mata, Mata SePeLe Bisa Berdampak Serius
TETES MATA : M. Daud (50) sedang beristirahat di sela menjalankan pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online di Jakarta Selatan. (FOTO : Kabarindo.com/Anton C)
-------
JAKARTA -- Bagi pengendara motor yang menghabiskan waktu berjam-jam di jalanan setiap hari, mata adalah aset paling vital. Para pengemudi ojek online, kurir, maupun pekerja komuter memiliki risiko besar dalam hal kesehatan mata. Bagi kalangan tersebut, mata sering kali menjadi bagian tubuh yang paling menderita akibat paparan debu, angin kencang, polusi, dan paparan sinar matahari yang menyengat.
Keluhan mata perih, sepet, dan lelah bukan sekadar gangguan kecil. Bagi pengendara motor, kondisi ini bisa menjadi ancaman keselamatan yang serius karena menurunkan fokus dan kecepatan reaksi di jalan.
M. Daud (50) pengemudi ojek online di Jakarta Selatan pernah merasakan gangguan mata perih, sepet dan lelah itu. Tentu tak mengherankan, sebab, Daud, begitu dia disapa, setiap hari melintasi aspal Jakarta sejauh 100 kilometer. “Kadang jika melintas di daerah industri seperti Pulo Gadung, debu dari truk yang melintas tersasa perih di mata,”ungkapnya kepada Kabarindo.com, Kamis (15/1/2026).
Daud adalah tulang punggung keluarganya. Pekerjaan yang dilakoni pria warga Kebayoran Lama Selatan, Jakarta Selatan itu tentu memiliki risiko kesehatan, khususnya pada mata. “Meskipun saya menggunakan helm bervisor, tapi debu, kadang kerikil kerap masuk ke mata,”kisahnya.
Tak hanya itu, jika orderan mengantarkan penumpang atau makanan sedang ramai, Daud harus memacu motor matik bernopol B 3420 SVZ miliknya menempuh jarak puluhan kilometer ditengah terik sinar matahari dan terpaan angin. “Kadang mata jadi kering dan sepet, terutama saat malam hari,”katanya.
Mata yang kering dan gatal, kerap memantik keinginan Daud untuk mengucek atau memejamkan mata lebih lama. “Tetapi selalu saya tahan, karena sangat berbahaya, mata bisa terluka. Terlebih saat melaju dalam kecepatan tinggi,bisa membahayakan keselamatan,”urainya. Apa yang dialami Daud bukanlah hal sepele. Mata yang sangat kering (sepet) membuat lapisan kornea tidak rata, sehingga bayangan objek menjadi tidak fokus. Tak hanya itu, paparan polusi terus-menerus dapat menyebabkan peradangan jangka panjang (konjungtivitis) atau tumbuhnya selaput pada mata (pterigium).
Untuk menjaga matanya tetap prima di tengah kerasnya jalanan, Daud mengaku selalu membawa tetes mata sejak dua tahun terakhir. “Saya teteskan Insto, untuk membasahi mata yang sepet karena terpapar angin terus-menerus,”katanya.
Daud mengungkapkan, saat matanya mulai terasa panas atau perih, dia beristirahat sejenak untuk memejamkan mata selama 15 menit. “Saat ditetesi Insto rasanya adem,penglihatan menjadi lebih terang,”ungkapnya.
Kondisi yang dialami para pengendara motor seperti Daud, sangat berkaitan dengan faktor lingkungan. Riset yang diterbitkan dalam jurnal Investigative Ophthalmology & Visual Science (IOVS) "Impact of Environmental Factors on Tear Film Stability"meneliti dampak aliran udara terhadap stabilitas lapisan air mata.
Paparan angin terus-menerus seperti saat berkendara, mempercepat penguapan lapisan air mata secara drastis (evaporative dry eye). Hal ini menyebabkan osmolalitas air mata meningkat, yang memicu peradangan pada permukaan mata dan rasa perih yang tajam.
Sebuah studi dari University of Utah, Moran Eye Center dengan tajuk "Air Pollution and Ocular Surface Disease" meneliti hubungan antara polusi udara perkotaan dengan kesehatan mata. Studi tersebut menemukan, partikel halus (PM2.5) dan gas buang kendaraan yang sering ditemui di jalan raya dapat merusak sel-sel goblet di mata yang berfungsi memproduksi lendir pelindung. Tanpa perlindungan ini, mata akan terus-menerus merasa sepet dan mengganjal.
Sedangkan penelitian dari National Institutes of Health (NIH) dengan tajuk "The impact of visual fatigue on driving performance" menunjukkan kaitan antara kelelahan visual dengan fungsi kognitif. Dalam penelitian itu ditemukan bahwa mata yang lelah (Asthenopia) secara signifikan memperlambat waktu reaksi visual seseorang terhadap rangsangan mendadak. Bagi pengendara, ini meningkatkan risiko kecelakaan hingga 20-30%.
Mata adalah "kompas" pengendara di jalan raya. Karenanya, masyarakat, khususnya yang rutin berkendara harus menyadari bahwa rasa perih dan sepet bukanlah hal sepele.
Menggugah Kesadaran Melalui Kampanye Bebas Mata SePeLe
Mata perih, sepet, dan lelah (SePeLe) adalah pengingat bahwa mata seseorang butuh istirahat. Mengabaikan gejala ini dapat memicu kerusakan saraf mata atau mempercepat gangguan penglihatan lainnya. Karenanya, masyarakat perlu menyayangi mata dengan disiplin beristirahat dan menjaga hidrasi mata.
Kampanye Insto Dry Eyes dari Combiphar dengan tema “Bebas Mata SePeLe” di Jakarta November 2025 silam. Kampanye “Bebas Mata SePeLe” merupakan wujud dedikasi berkelanjutan dari Insto dalam menjaga kesehatan mata rakyat Indonesia. (FOTO/Istimewa).
-----
GM Eye Care Combiphar Farah Feddia dalam kampanye nasional “Bebas Mata SePeLe” awal November 2025 silam menegaskan, komitmen Insto untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat mengenai mata kering terus diperkuat melalui serangkaian riset dan survei berkala. Dari studi tersebut, ditemukan fakta bahwa 40% individu sebenarnya menderita mata kering, tetapi separuh di antaranya tidak menyadari bahwa mata mereka sedang bermasalah.
Temuan ini menjadi sinyal kuat bahwa edukasi masif sangat dibutuhkan. Karenanya, Insto meluncurkan kampanye ‘Bebas Mata SePeLe’ melalui produk Insto Dry Eyes. Inisiatif ini bertujuan untuk membangkitkan kesadaran masyarakat sekaligus memberikan solusi tepat guna, sehingga masyarakat Indonesia bisa menjaga kesehatan penglihatan mereka demi mendukung produktivitas sehari-hari.
Kampanye nasional #BebasMataSePeLe itu digaungkan karena banyak orang cenderung menyepelekan gejala awal seperti rasa sepet, perih, dan lelah pada mata. Padahal, minimnya kepedulian ini berisiko membuat gangguan mata kering berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih parah jika tidak segera ditangani dengan benar.
Direktur PT Combiphar Weitarsa Hendarto mengungkapkan, kampanye “Bebas Mata SePeLe” merupakan wujud dedikasi berkelanjutan dari Insto dalam menjaga kesehatan mata rakyat Indonesia. Menurut Weitarsa, sebagai merek tetes mata nomor satu yang telah melegenda selama lebih dari setengah abad, Insto merasa bertanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat.
"Kami melihat masih banyak masyarakat yang belum paham mengenai mata kering. Inilah alasan kami meluncurkan gerakan Bebas Mata SePeLe, agar tanda-tanda awal tidak lagi diabaikan dan bisa segera diatasi,"tegasnya. Dia mengingatkan, penglihatan yang sehat adalah kunci bagi masyarakat untuk tetap aktif, produktif, dan menjalani hidup dengan lebih ceria. Hal ini sejalan dengan filosofi Combiphar yakni, 'Championing a Healthy Tomorrow', di mana Insto terus berinovasi untuk mendukung terciptanya kualitas hidup masyarakat Indonesia yang lebih baik.
Weitarsa menegaskan, sebagai jawaban atas gangguan mata sepet, perih, dan lelah, Insto menghadirkan Insto Dry Eyes. Produk ini diperkaya dengan zat aktif Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC), sebuah bahan pelumas yang cara kerjanya menyerupai air mata alami.
Keunggulan kandungan HPMC ini bahkan telah direkomendasikan oleh International Council of Ophthalmology (ICO) kepada WHO sebagai standar terapi untuk meredakan iritasi akibat minimnya produksi air mata. Hadir dalam botol praktis berukuran 7,5 ml, Insto Dry Eyes sangat mudah digunakan dan dibawa ke mana saja bagi mereka yang memiliki mobilitas tinggi.
Sedangkan Dokter Spesialis mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, mengungkapkan bahwa banyak pasien mata kering yang baru mencari bantuan medis saat gangguan yang dialami sudah memasuki stadium lanjut. Umumnya, mereka tidak menyadari kondisi tersebut meski tanda-tanda awal seperti rasa sepet, perih, hingga mata lelah sebenarnya telah dirasakan sejak lama. Menurutnya, keparahan kondisi ini bisa sangat diminimalisir jika penanganan dilakukan sejak gejala pertama muncul.
Eka menyarankan siapa pun yang merasakan keluhan tersebut untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis mata. Langkah ini penting untuk mengevaluasi penyebab serta tingkat keparahan mata kering secara menyeluruh, mengingat setiap individu memerlukan penanganan yang berbeda (personalized).
"Tatalaksana mata kering tidak bisa disamaratakan karena tipenya beragam. Solusi yang diberikan sangat bervariasi, mulai dari tindakan sederhana seperti kompres hangat, menjaga kebersihan kelopak mata (lid hygiene), rutin melatih kedipan mata, hingga penggunaan air mata buatan (artificial tears) dan suplemen pendukung seperti Omega-3. Namun, untuk kasus yang sudah sangat ekstrem, tindakan pembedahan atau operasi bisa menjadi jalan terakhir yang harus ditempuh," jelasnya.
Comments ( 0 )