Lourda Hutagalung Budidharma; Gagas Ethno-wellness Indonesia

Lourda Hutagalung Budidharma; Gagas Ethno-wellness Indonesia

Salemba, Jakarta, Kabarindo- Menarik dari rilis yang hinggap di meja redaksi akhir pekan ini.

Di masa pandemi COVID-19 ini, satu-satunya penyelamat kita adalah anti-body. Sebagian cara untuk meningkatkan anti-body yang sudah sering disosialisasikan seperti vitamin C, vitamin D, sayuran, protein, berjemur, olah raga dan ramuan herbal tertentu.

Upaya lain yang baru setengah jalan sosialisasinya adalah minum 2 liter air/hari, olah raga dan olah pernafasan, serta rileksasi. Sebagian upaya lain yang belum diangkat adalah dengan melancarkan peredaran darah guna meningkatkan metabolisme tubuh yang akan merangsang produksi anti-body. Upaya preventif kesehatan ini, kita sebut saja “jurus silat wellness”.

Hal itu dipapar lugas oleh Lourda Hutagalung Budidharma sebagai Ketua Presidium BASKARA.

Lanjut ia jelaskan bahwa Ethno-wellness Indonesia yang merupakan budaya kesehatan Indonesia, kearifan lokal warisan para ahli pengobatan (ini tukang obat juga, pakai doa, tapi bukan jargon- jargon tukang obat dari sana itu) dan para ibu kita di jaman baheula yang tertinggal belum disosialisasikan.

Wellness Spa adalah konsep kesehatan preventif yang sangat berguna untuk kebersihan tubuh, meningkatkan imunitas dan pembentukan anti-body.

Lourda juga mengungkapkan keprihatinan bahwa sudah 8 bulan usaha Wellness Spa tidak boleh buka. Sejak bulan April 2020, AKB yang memuat segala upaya pencegahan dari sisi pelanggan, petugas pelaksana dan usaha sudah dipikirkan. Bersamaan dengan kegunaan Wellness Spa, AKB ini sudah kami jajakan ke berbagai instansi.

Bahkan Kementerian Kesehatan heran bahwa dengan manfaat yang ditimbulkan dan AKB yang ketat, kenapa usaha Wellness Spa tetap tidak diperbolehkan buka. Kementerian teknis terkait enggan paham. Mungkin Wellness Spa India dan Wellness Spa Turki lebih mempesona?

Dinas Pariwisata lempar bola ke Satgas. Satgas lempar bola lagi ke kementerian teknis. DPR Komisi X paham dan setuju dengan pengobatan warisan nenek-moyang ini. Dan bola kembali saya gelandang ke kanan dan kiri serasa dansa rumba.

Dari hari ke hari terus terdengar engahan nafas teman-teman UKM, IKM dan para pekerja bidang ini. Delapan bulan berjalan tanpa mendapatkan bantuan apapun walau telah mengisi berbagai macam formulir.

Puluhan bahkan ratusan ribu pekerja industri Wellness Spa tidak mendapatkan bantuan rapid test, bantuan training, bahkan bantuan apapun walau sudah mengisi data pada tautan (link) yang disediakan. Ribuan pengusaha bidang ini juga tidak mendapat bantuan apapun.

Sekali lagi, walau sudah 8 bulan tetap belum ada kabar atau arahan semestinya, padahal AKB sudah disiapkan oleh Wellness & Healthcare Entrepreneur Association (WHEA) bekerja-sama dengan Indonesia Wellness Spa Professional Association (IWSPA) dan Indonesia Wellness Master Association (IWMA) sejak 5 bulan yang lalu.

Sekali lagi, Kementerian Kesehatan pun heran kenapa Wellness Spa tidak juga diijinkan untuk buka mengingat fungsi dan peran lembaga ini dalam membantu mengatasi ancaman virus COVID-19 (sementara vaksinnya belum tersedia), pemulihan ekonomi nasional pada umumnya dan kebangkitan pariwisata pada khususnya melalui sub-sektor Ethno-wellness Tourism.

“Kami para pengusaha kecil Ethno-wellness Indonesia harus menyaksikan pertunjukan panggung yang maha tragis”, tegasnya.

Kami paham sulitnya menahkodai kapal yang penuh dengan ambisi 2024. Dengan air mata yang telah kering, dengan perut yang lapar, dengan bahaya pandemi yang masih terus mengancam, kami dukung sepenunya Presiden Republik Indonesia, presidennya rakyat Indonesia. Maju terus pantang mundur, Pak.

Kami UKM & IKM Wellness Spa akan terus bertahan dan berupaya untuk terus berkarya, dalam nama Tuhan Yang Maha Esa.

Semoga......!