Selamatkan Gajah Sumatera; WWF Indonesia Pasang GPS

Selamatkan Gajah Sumatera; WWF Indonesia Pasang GPS

Jakarta, Kabarindo- Nasaruddin memaparkan secara gamblang bahwa setelah gajah liar dibius dan ia menunjukkan tanda-tanda tidur, GPS Satellite Collar dipasang pada lehernya.

Ia jelaskan cara pemasangan GPS Satellite Collar pada gajah liar di Sumatera. Nazaruddin merupakan koordinator mahout (pelatih gajah) se-Indonesia. Dia juga penggagas berdirinya Elephant Response Unit (ERU), tim yang melatih gajah untuk membantu warga menghalau gajah liar yang ingin memasuki lahan pertanian.
 
Proses pemasangan GPS Satellite Collar bukanlah hal yang mudah. Sebelum melakukan pemasangan, tim harus melakukan survei terlebih dahulu terhadap kelompok gajah liar yang akan dipasangi GPS Satellite Collar. Mereka mengindentifikasi gajah betina mana yang dominan dan ada berapa jumlah gajah dalam satu kelompok.
 
Ketika sudah teridentifikasi gajah pemimpin kawanan yang akan dipasangi GPS Satellite Collar, tim akan memecah kelompok gajah supaya dapat melakukan pembiusan terhadap pemimpin kawanan. Ada tiga tim yang terlibat dalam pemasangan GPS. Tim pertama adalah tim eksekusi yang membawa senjata bius. Merekalah yang paling dekat posisinya dengan gajah. Kemudian ada tim kedua beranggotakan dokter hewan dan polisi hutan yang menunggu dari jarak jauh. Mereka yang membawa peralatan tali dan GPS. Kemudian tim ketiga adalah tim logistik yang membawa konsumsi.
 
“Saat dibius, dalam kondisi ‘fly’, diusahakan gajah tetap dalam kondisi berdiri untuk keamanannya. Sebelum dibius pun harus diperhatikan kondisi alam, apakah di dekat jurang atau tidak, supaya tidak membahayakan gajah,” jelas Nazaruddin. “Saat sudah selesai memasang GPS dan memberikan anti bius, kita tidak boleh langsung pergi. Tim harus memastikan gajah sadar dan pulih sepenuhnya serta kembali ke kawanan,” tambah mahout yang sering memberikan pelatihan tentang gajah hingga ke India dan Myanmar ini.
 
Proses pemasangan GPS Satellite Collar pada gajah liar juga memberikan keuntungan lain, yaitu informasi tentang berat badan gajah. Wah, bagaimana caranya mengukur berat gajah? Apakah gajahnya ditimbang? Ternyata berat gajah dapat diketahui dengan menggunakan rumus. Melalui lingkar dada saat sedang menghembuskan napas serta tinggi badan gajah, mahout dapat mengetahui berat gajah dengan menghitung melalui rumus tertentu.
 
Salah satu GPS Satellite Collar yang telah dipasang oleh Nazaruddin merupakan hasil donasi dari penyanyi Tulus bersama publik melalui kampanye #JanganBunuhGajah yang diserahkan kepada WWF-Indonesia pada 2016 silam. Pemasangan GPS Satellite Collar tersebut sangat berguna untuk mengawasi serta memberi informasi keberadaan dan pergerakan gajah liar di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) secara akurat. Penggalangan dana untuk pengadaan GPS Satellite Collar masih dilakukan oleh Tulus melalui kampanye #TemanGajah dengan menggandeng lebih banyak pihak, dari anak-anak hingga dewasa. Publik dapat memberikan dukungan melalui www.kitabisa.com/temangajah. Nantinya jika donasi sudah terkumpul, akan dilakukan pemasangan GPS Satellite Collar pada gajah liar lainnya.
 
Keuntungan pemasangan GPS Satellite Collar adalah dapat memantau keberadaan gajah liar. “Pemasangan GPS Collar tidak menyelesaikan konflik tetapi memudahkan penanganan konflik. Penanganan konflik yang bisa kita lakukan adalah dengan deteksi dini. Namun, apapun yang kita lakukan, kembali lagi pada peranan UPT (Unit Pelaksana Teknis) terkait,” tegas Nazaruddin. Saat ini keberadaan tim patroli seperti Flying Squad dan ERU memiliki peranan penting, tetapi masih membutuhkan dukungan tegas dari pemerintah.
 
Menutup cerita tentang pemasangan GPS Satellite Collar, Nazaruddin pun memberikan pesan, “Kalau kita ingin turut melindungi gajah, jangan mau lagi pakai barang-barang yang terbuat dari gading gajah, tulang, dan lain-lain seperti dilansir dari laman wwf.or.id