Coffee Tasting Ajak Peserta Mengenal & Cicipi Tiga Jenis Kopi Single Origin Indonesia

Coffee Tasting Ajak Peserta Mengenal & Cicipi Tiga Jenis Kopi Single Origin Indonesia

Coffee Tasting Ajak Peserta Mengenal & Cicipi Tiga Jenis Kopi Single Origin Indonesia

Java Arabica, Kalosi Toraja dan Sumatra Mandheling

KABARINDO, SURABAYA – Kopi merupakan minuman sehari-hari masyarakat Indonesia sejak dulu kala. Jika zaman dulu minum kopi identik dengan kakek-kakek di rumah atau warung di desa-desa atau kampung-kampung, kini kopi sudah digemari mulai remaja, anak muda hingga orang dewasa.

Ngopi sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Banyak orang, terutama anak muda, yang sering nongkrong di kafe sambil ngobrol atau buka laptop menggarap tugas. Kebiasaan ngopi ini direspon dengan hadirnya makin banyak kafe, begitu pula warkop, yang bertebaran di jalan-jalan terutama di kota-kota besar.

Soal harga dan segmen, masing-masing memiliki konsumen berbeda. Kafe membidik konsumen menengah ke atas dengan menawarkan bermacam varian minuman dan harga relatif terjangkau, sedangkan warkop konsumennya cenderung kalangan bawah yang menawarkan lebih sedikit varian minuman, umumnya sachet-an, dengan harga lebih murah. Jadi pilihan bergantung pada selera, gengsi dan uang.

Minuman kopi bisa dinikmati bukan hanya di kafe-kafe yang berdiri sendiri, di mal maupun yang berada di SPBU, namun juga di coffee corner di hotel-hotel. Hotel bisa mengadakan coffee tasting seperti yang dilakukan Swiss-Belinn Tunjungan Surabaya pada Senin (26/1/2026) dalam rangka memperingati 10th Anniversary.

Kegiatan tersebut diadakan manajemen hotel yang diikuti oleh sekitar 30 peserta mulai dari remaja, keluarga hingga pecinta kopi. Para peserta tampak antusias mengikuti coffee tasting yang dikemas secara edukatif dan interaktif.

Mereka diajak untuk mengenal dan mencicipi tiga jenis kopi single origin Indonesia, yaitu Java Arabica dengan karakter rasa yang seimbang dan aroma yang lembut, Kalosi Toraja yang memiliki cita rasa khas dengan sentuhan earthy dan spicy, serta Sumatra Mandheling dengan karakter bold, rich dan aftertaste yang kuat

GM Secretary Swiss-Belinn Tunjungan Surabaya, Joevanka Ellenia, mengatakan coffee tasting merupakan salah satu bentuk apresiasi kepada masyarakat dan tamu setia hotel.

“Melalui kegiatan coffee tasting, kami ingin menghadirkan pengalaman yang berbeda, sekaligus mempererat hubungan dengan masyarakat sebagai bagian dari Perayaan 10 Tahun Swiss-Belinn Tunjungan Surabaya,” ujarnya.

Kegiatan tersebut didukung oleh PT Fastrata Buana (Excelso) selaku partner resmi, yang turut mensuplai biji kopi berkualitas tinggi untuk memastikan pengalaman mencicipi kopi yang optimal bagi seluruh peserta.

Coffee tasting menghadirkan Eko Wahyudi yang telah 12 tahun berpengalaman menjadi barista. Ia meracik minuman kopi dengan metode manual brewing, sehingga peserta dapat merasakan karakter masing-masing kopi. Ia menjelaskan metodenya kemudian menawarkan kepada para peserta untuk mencicipi kopi hasil racikannya.

Yudi mengatakan, sebaiknya kopi diracik dari biji langsung, sehingga lebih fresh, baru di-grinding menjadi bubuk. Bisa menjadi bubuk halus, medium atau kasar. Jika teksturnya halus rasanya lebih kuat dibandingkan yang kasar. Cara meraciknya sesuai keinginan. Untuk satu gelas, cukup 15 gram kopi dengan 225 ml air. Jika dengan es, cukup 125 ml air.

Yang pertama, Yudi meracik kopi menggunakan metode V60. Taste-nya lebih ringan dan fruity, cocok untuk penyuka kopi yang ringan. Selanjutnya ia meracik Japanese Coffee dengan as dari kopi Kalosi Toraja yang rasanya segar.

Yudi menyarankan kopi arabika bagi penderita asam lambung, karena kafeinnya lebih rendah dibandingkan robusta. Minum kopi juga sebaiknya tanpa gula, sehingga tastenya benar-benar kopi murni, tidak bercampur rasa manis. Bagi penggemar kopi hitam, bisa memilih Americano yang cenderung pahit. Bagi penyuka kopi dengan campuran susu, bisa memilih latte atau espresso.

Menurut Yudi, kopi Java Arabica taste-nya klasik, tidak terlalu pahit, cocok bagi penggemar kopi hitam dan milk based. Taste kopi Sumatra Mandheling lebih kuat, ada rasa rempah dan coklat. Sedangkan taste kopi Kalosi Toraja lebih fruity.

“Orang Indonesia lebih suka kopi robusta, sedangkan orang Eropa dan Amerika lebih pilih kopi arabika. Anak muda di sini juga suka Americano dari kopi Kalosi Toraja, panas atau dingin, tanpa gula. Kalau yang lebih dewasa lebih suka kopi Sumatra Mandheling,” paparnya.