Menjaga Anak dari Jerat Layar: UT Bekali Orang Tua Leuwikaret dengan Digital Parenting

Menjaga Anak dari Jerat Layar: UT Bekali Orang Tua Leuwikaret dengan Digital Parenting

KABARINDO, JAKARTA  – Upaya membentengi anak dari risiko kecanduan teknologi digital terus digencarkan melalui pendekatan edukatif berbasis keluarga. Kali ini, dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka (UT) hadir di Desa Leuwikaret, Kabupaten Bogor, membawa solusi konkret melalui pelatihan Digital Parenting bagi para orang tua.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) nasional yang digelar di Aula Kantor Desa Leuwikaret ini diikuti oleh 40 peserta. Mereka merupakan para orang tua yang sehari-hari menghadapi tantangan dalam mengontrol penggunaan gawai pada anak, mulai dari kecanduan gim hingga kebiasaan menonton video tanpa batas.

Acara dibuka oleh Pelaksana Harian Kepala Desa Leuwikaret, Hendi, yang menyambut baik inisiatif tersebut sebagai langkah strategis dalam menjawab persoalan sosial yang kian nyata di tengah masyarakat digital.

Ketua tim pelaksana PkM, Gunawan Wiradharma, menegaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk membekali orang tua agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus mengarahkan anak dalam penggunaan digital yang sehat. “Orang tua memiliki peran kunci dalam membentuk perilaku digital anak. Dengan pemahaman yang tepat, mereka dapat menjadi pendamping sekaligus pelindung bagi anak di era digital,” ujarnya.

Program ini merupakan bagian dari PkM nasional yang dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Terbuka, dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI melalui program EQUITY. Pendanaan tersebut bersumber dari Dana Abadi Perguruan Tinggi (DAPT) yang dikelola oleh LPDP Kementerian Keuangan RI Tahun Anggaran 2025/2026.

Pelatihan ini tidak lahir tanpa dasar. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan sebelumnya, para orang tua di Desa Leuwikaret mengeluhkan berbagai gejala yang muncul pada anak akibat penggunaan gawai berlebihan. Mulai dari kesulitan melepaskan diri dari layar, kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial, mudah marah saat akses dibatasi, hingga penurunan aktivitas fisik dan prestasi belajar.

Kondisi tersebut dinilai tidak bisa diabaikan dan membutuhkan penanganan kolaboratif antara pemerintah desa, perguruan tinggi, dan masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin kehidupan sehat dan sejahtera serta pengurangan kesenjangan.

Rangkaian kegiatan pelatihan dirancang secara sistematis, dimulai dari pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta, dilanjutkan dengan penyampaian materi, sesi diskusi interaktif, hingga penyusunan strategi praktis dalam menghadapi kecanduan digital pada anak. Kegiatan kemudian ditutup dengan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pemahaman peserta.

Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar digital parenting, identifikasi perilaku kecanduan digital pada anak, dampaknya terhadap perkembangan psikologis dan sosial, hingga peran strategis orang tua dalam mengelola penggunaan gawai.

Salah satu fokus utama pelatihan adalah penyusunan strategi pencegahan kecanduan digital, yang meliputi pengawasan aktif, komunikasi efektif, pembatasan penggunaan, pemberian edukasi, serta keteladanan orang tua dalam menggunakan teknologi. Pendekatan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.

Melalui pelatihan ini, para orang tua diharapkan tidak hanya mampu mengendalikan penggunaan teknologi pada anak, tetapi juga membimbing mereka untuk memanfaatkan teknologi secara produktif, aman, dan bertanggung jawab.

Lebih dari sekadar kegiatan edukasi, pelatihan ini menjadi langkah awal menuju terwujudnya Desa Leuwikaret sebagai desa digital yang mandiri, aman, dan berdaya—di mana teknologi tidak menjadi ancaman, melainkan alat untuk membangun masa depan generasi yang lebih sehat dan cerdas.