Pentingnya Open AI Software, Tawarkan Aksesibilitas Lebih Luas & Hambatan Lebih Rendah
Pentingnya Open AI Software, Tawarkan Aksesibilitas Lebih Luas & Hambatan Lebih Rendah
KABARINDO, SURABAYA - Seiring sistem AI menjadi semakin kompleks dan terdistribusi, kebutuhan akan keterbukaan dalam software, hardware dan desain sistem menjadi keharusan strategis. Ekosistem tertutup berisiko menyebabkan ketergantungan pada vendor tertentu, membatasi fleksibilitas dan dapat menghambat inovasi pada saat kemampuan beradaptasi sangat penting untuk meningkatkan skala AI.
Inilah mengapa tumpukan open software seperti AMD ROCmTM sangat penting. ROCm memberi pengembang dan peneliti kebebasan untuk membangun, mengoptimalkan dan menerapkan model AI di berbagai lingkungan.
Rilis dari AMD menyebutkan, ROCm mendukung kerangka kerja populer seperti PyTorch dan TensorFlow, menyertakan alat canggih untuk penyetelan kinerja dan menawarkan portabilitas di berbagai hardware. Semuanya tersedia sebagai open source. Dalam konteks ambisi Jepang untuk mendorong inovasi di seluruh akademisi, perusahaan rintisan dan industri, open AI software menawarkan aksesibilitas yang lebih luas, iterasi lebih cepat dan hambatan yang lebih rendah.
Keterbukaan pada tingkat hardware dan sistem juga sangat penting. Seiring berkembangnya komputasi AI menuju penerapan skala besar dan heterogen, arsitektur skala rak menjadi sangat mendasar. Standar terbuka seperti Open Compute Project (OCP) mendukung desain sistem modular, sementara kolaborasi yang muncul seperti Ultra Accelerator Link (UALink) bertujuan menciptakan koneksi terbuka dan berbandwidth tinggi antara akselerator AI di berbagai server.
Sementara itu, Ultra Ethernet Consortium (UEC) sedang mendefinisikan standar jaringan generasi berikutnya yang dirancang khusus untuk AI, memungkinkan pergerakan data dengan latensi rendah dan throughput tinggi di seluruh sistem terdistribusi.
Inisiatif terbuka ini memberi operator cloud dan data center kemampuan untuk membangun infrastruktur yang fleksibel dan interoperabel yang mampu mengimbangi pertumbuhan pesat AI. Karena itu, merangkul ekosistem terbuka memposisikan negara untuk mendapatkan manfaat dari inovasi global sekaligus mengembangkan diferensiasi lokal. Hal ini memungkinkan pemerintah dan bisnis untuk membangun infrastruktur yang berkinerja tinggi, hemat energi dan disesuaikan dengan kebutuhan domestik, tanpa terikat pada batasan kepemilikan.
Di era mendatang yang ditandai oleh AI multi-agen, keterbukaan bukan hanya sebuah filosofi, namun prasyarat untuk skala, kedaulatan dan kepemimpinan yang berkelanjutan.
Seiring AI berbasis agen mengubah cara segala sesuatu dilakukan, fokus harus melampaui GPU untuk mencakup CPU, interkoneksi berkecepatan tinggi dan jaringan cerdas. Semuanya sama pentingnya untuk mengatur keputusan kompleks dan real-time yang dibuat agen AI dalam skala besar. Sama pentingnya adalah ekosistem terbuka dengan open software seperti ROCm, standar industri untuk desain skala rak, serta upaya kolaboratif seperti UALink dan UEC yang memungkinkan fleksibilitas lebih besar, inovasi lebih cepat dan interoperabilitas dari edge ke cloud.
Itulah sebabnya AMD memajukan visinya dengan “Helios” – desain referensi skala rak generasi berikutnya untuk infrastruktur AI yang akan dirilis pada tahun ini, yang dirancang untuk menyatukan komputasi berkinerja tinggi, open software dan arsitektur yang dapat diskalakan untuk memenuhi tuntutan AI agenik.
Membangun infrastruktur yang terbuka, heterogen dan terukur seperti ini bukan hanya pilihan teknologi, namun pondasi strategis untuk daya saing nasional. Seiring negara ini menghadapi peningkatan kebutuhan otomatisasi dan ambisi AI regional yang berkembang, infrastruktur AI yang siap menghadapi masa depan akan sangat penting untuk membuka pertumbuhan berkelanjutan, inovasi dan ketahanan.
Foto: istimewa
Comments ( 0 )