Tak Lagi Belajar di Lantai, Siswa di Wilayah 3T Kini Nikmati Fasilitas Mewah

Tak Lagi Belajar di Lantai, Siswa di Wilayah 3T Kini Nikmati Fasilitas Mewah
Tak Lagi Belajar di Lantai, Siswa di Wilayah 3T Kini Nikmati Fasilitas Mewah

TK Pembina Negeri Senggi, Kabupaten Keerom, Provinsi Papua. (FOTO : DOK.KEMENDIKDASMEN)

_________

LOMBOK UTARA – Komitmen pemerintah dalam menghadirkan keadilan pendidikan mulai membuahkan hasil di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga membangun harapan baru bagi anak-anak di pelosok Papua hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

​Program ini menjadi manifestasi nyata dari visi "Pendidikan Bermutu untuk Semua". Dampaknya pun mulai dirasakan langsung: semangat belajar siswa meningkat, kepercayaan diri guru menguat, hingga kembalinya kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan negeri maupun swasta di daerah.

Kisah haru datang dari ujung timur Indonesia. Albertina Insyur, Kepala TK Pembina Negeri Senggi di Kabupaten Keerom, Papua, mengungkapkan rasa syukurnya. Berlokasi tepat di tapal batas Indonesia-Papua Nugini, sekolah ini selama bertahun-tahun seolah terlupakan oleh pembangunan.

​Namun, pada tahun 2025, perubahan besar datang. Sekolahnya menerima bantuan revitalisasi yang mencakup pembangunan ruang kelas baru (RKB), toilet, hingga ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

​"Terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto dan Kemendikdasmen. Kini murid-murid kami sangat bahagia. Mereka memiliki lingkungan belajar yang jauh lebih nyaman dan layak di beranda terdepan negeri ini," ujar Albertina dikutip Minggu (22/2/2026).

Salah satu kunci sukses program ini adalah skema swakelola. Albertina mencatat bahwa proses pembangunan melibatkan warga sekitar secara langsung. Hal ini menciptakan sense of belonging (rasa memiliki) yang kuat antara masyarakat dan sekolah.

​Tak hanya itu, ekonomi lokal pun kecipratan berkah. Material bangunan dibeli dari kios dan toko bangunan setempat, sehingga anggaran pendidikan turut berputar dan menghidupkan ekonomi kerakyatan di desa-desa 3T.

Bergeser ke Nusa Tenggara Barat, SMP Islam Darul Bayan di Kabupaten Lombok Utara mencatat transformasi luar biasa. Dengan kucuran anggaran lebih dari Rp2,9 miliar, sekolah ini kini memiliki laboratorium IPA, perpustakaan, hingga ruang administrasi yang representatif.

​Kepala SMP Islam Darul Bayan, Ihsan Sopiandi, menyebut revitalisasi ini sebagai titik balik sekolahnya. "Dulu kami kurang dilirik karena keterbatasan fasilitas. Sekarang, citra sekolah meningkat tajam dan semakin banyak orang tua yang antusias menyekolahkan anaknya di sini," ungkapnya.

​Hal senada dirasakan Sahrir, Kepala SD Negeri 1 Loloan, Lombok Utara. Baginya, revitalisasi adalah solusi atas masalah kronis kekurangan ruang kelas.

​"Kini peserta didik tidak lagi harus belajar di lantai perpustakaan. Sarana belajar seperti meja dan bangku sudah terpenuhi. Lingkungan belajar menjadi jauh lebih aman, nyaman, dan bermartabat," tegas Sahrir.