Takluk dari Arema FC, Mauricio Souza: Dominasi Tak Cukup, Gol Jadi Penentu

Takluk dari Arema FC, Mauricio Souza: Dominasi Tak Cukup, Gol Jadi Penentu

KABARINDO, JAKARTA — Persija Jakarta harus menelan kekalahan 0-2 dari Arema FC, namun hasil akhir tersebut dinilai tak sepenuhnya mencerminkan jalannya pertandingan. Pelatih Persija, Mauricio Souza, menegaskan timnya tampil dominan, terutama pada babak kedua, meski gagal menerjemahkan penguasaan permainan menjadi gol di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Minggu (8/2/2026).

Pelatih asal Brasil itu mengakui Persija sejatinya sudah menemukan celah di pertahanan Arema sejak babak pertama. Namun, lemahnya pengambilan keputusan serta penyelesaian akhir membuat peluang demi peluang terbuang percuma.

“Di babak pertama kami menemukan ruang yang seharusnya bisa dimaksimalkan. Bola masuk ke area yang kami inginkan, tetapi keputusan di momen akhir dan kualitas teknis belum maksimal,” ujar Souza dalam konferensi pers usai laga.

Situasi berubah pada paruh kedua. Menurut Souza, Macan Kemayoran menguasai jalannya pertandingan dengan dominasi penuh di wilayah lawan. Arema lebih banyak bertahan dan mengandalkan serangan balik cepat—strategi yang justru menjadi pembeda dalam laga tersebut.

“Kami mengontrol permainan, menekan terus di area lawan, dan menciptakan banyak peluang. Namun kami kurang menjaga transisi saat menyerang, sehingga mereka mendapatkan ruang untuk melakukan counter-attack dan mencetak gol,” jelasnya.

Souza juga menyinggung beberapa keputusan wasit yang menurutnya patut dikaji ulang, termasuk gol Persija yang dianulir serta insiden di babak pertama yang tidak ditinjau melalui VAR. Meski demikian, ia menegaskan pertandingan tetap berjalan dalam batas kewajaran.

“Saya tidak melihat secara jelas proses gol yang dianulir, tetapi ada beberapa situasi yang menurut kami bisa dicek lebih jauh. Namun secara umum pertandingan berlangsung normal,” katanya.
Di luar aspek teknis, laga ini juga diwarnai ketegangan seusai pertandingan. Mauricio Souza terlihat terlibat adu argumen dengan pemain Arema FC, yang turut menyeret pelatih Singo Edan, Marcos Santos, dalam keributan kecil di pinggir lapangan.

Menanggapi insiden tersebut, Souza memberikan klarifikasi. Ia menyebut keributan bermula dari selebrasi pemain Arema FC, Gabriel Silva, yang dinilainya tidak pantas karena mengarah ke bangku cadangan Persija.

“Pertandingan awalnya berjalan normal antara dua tim besar. Namun saat gol kedua tercipta, Gabriel melakukan selebrasi yang mengarah ke bangku cadangan kami. Itu menurut saya tidak menunjukkan rasa hormat, apalagi dia pernah menjadi pemain saya saat di tim U-20,” ujar Souza.
Ia mengungkapkan bahwa niat awalnya hanya untuk bersalaman dengan staf kepelatihan Arema setelah laga usai. Namun situasi berubah ketika Gabriel justru menghampirinya dan memicu adu argumen.

“Saya bahkan sempat meminta Dalberto untuk mengingatkan Gabriel agar lebih respek. Setelah pertandingan, saat saya hendak bersalaman dengan staf Arema, Gabriel mendatangi saya dan berdebat. Dia tidak mau mengakui apa yang terjadi,” tambahnya.

Souza juga menyinggung keterlibatan Marcos Santos yang menurutnya memperkeruh suasana. Ia mengaku insiden tersebut mengingatkannya pada kejadian serupa saat Persija bertandang ke Malang pada putaran pertama musim ini.

Meski kalah dan gagal meraih poin, Souza menegaskan dirinya tetap tenang dan menilai performa tim patut diapresiasi. Menurutnya, sepak bola tidak selalu berpihak pada tim yang dominan.

“Kami mencatat hampir 500 operan, sementara mereka jauh lebih sedikit. Tapi sepak bola ditentukan oleh gol. Kami tidak mencetak gol, mereka mencetaknya. Itu perbedaannya,” tegas Souza.

Menutup pernyataannya, pelatih berusia 50 tahun itu menegaskan Persija akan segera berbenah dan mengalihkan fokus ke laga berikutnya.

“Ini bukan hasil yang kami inginkan, tetapi kami harus terus melangkah. Kami akan melakukan evaluasi dan fokus pada pertandingan selanjutnya. Saya bangga dengan cara tim bermain, dan menurut saya kami juga pantas mendapatkan hasil lebih baik,” pungkasnya.