Dusun Mekko; Kembangkan Pariwisata Bahari Berbasis Konservasi

Dusun Mekko; Kembangkan Pariwisata Bahari Berbasis Konservasi

Jakarta, Kabarindo-  “Di waktu pagi, pantai Mekko kelihatan hidup,

Di sana sini, terlihat layar perahu telah terkembang
Mengindahkan suasana pantai, yang tenang dan tak berombak.
 
Kepayahan demi kepayahan orang bekerja di siang hari. Apabila telah sore, diobati dengan menyaksikan pemandangan di sekitar Pasir Putih, Pulau Kembar, terumbu karang yang beraneka warna. Terlebih lagi bila suka jalan-jalan ke Pulau Kelelawar, dengan pohon bakaunya yang indah.”
 
Khadijah, gadis berkerudung yang duduk di kelas 2 Madrasah Tsanawiyah Desa Pledo itu membacakan puisi yang ditulisnya sendiri. Dia beri judul, “Keindahan Perairan Mekko”. Di hadapannya ada setidaknya seratus tamu yang datang ke Dusun Mekko, Desa Pledo, Kecamatan wisata Witihama, Adonara, Flores Timur.

Dijah adalah putri Bakri Lolo Wajo, pemimpin Kelompok Bangkit Muda Mudi Mekko (BM3), kelompok sadar wisata beranggotakan 24 anak muda yang bermimpi besar membangun Mekko melalui potensi pariwisata bahari, dan menyejahterakan masyarakatnya. Berdiri sejak tahun 2016, kiprah mereka telah diakui melalui Surat Keputusan Kepala Desa Pledo Nomor 01 Tahun 2017 tentang Penetapan Kelompok Bangkit Muda Mudi Mekko Desa Pledo. Selama setahun terakhir, kelompok ini aktif mempelajari bagaimana memandu wisata yang ramah lingkungan.

Hari itu (29/06/2018), organisasi dampingan WWF-Indonesia ini meresmikan Pusat Informasi Pariwisata Kelompok BM3 di Dusun 3 Mekko, Desa Pledo. Berbentuk bangunan sederhana dari kayu, tepat berada di muka dermaga yang ditujukan sebagai jembatan tambatan perahu.

Di sana, Kelompok BM3 menyimpan alat snorkeling dan life vest pemberian supporter WWF-Indonesia. Wisatawan dapat membaca brosur, panduan dan paket wisata, hingga peta pariwisata Mekko yang terpajang besar-besar, sekaligus memahami bahwa mereka berwisata berada di dalam zona pemanfaatan Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Flores Timur.

Laurensius Lebu Raya, Camat Witihama, secara resmi membuka Pusat Informasi Pariwisata tersebut, dengan dukungan dari jajaran Pemerintahan Kabupaten Flores Timur, baik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perikanan, hingga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Tidak luput hadir, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengawal perbaikan perikanan di Mekko, WCS dan Misool Baseftin.

“Mekko adalah salah satu destinasi pariwisata prioritas Kabupaten Flores Timur,” ungkap Apolonia Corebima, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Flores Timur. “Saat ini, penggusuran (pelebaran) jalan darat menuju Mekko sedang dilakukan, dan tahun depan, pemerintah akan mendirikan bangunan untuk Tourist Information Center yang bisa digunakan kelompok untuk beraktivitas,” imbuhnya.

“Potensi Mekko yang begitu indah ini, harus sama-sama kita jaga dan kembangkan. Dari masyarakat, dan untuk masyarakat,” Polikarpus K. Blolo, anggota DPRD Flores Timur, tuan tanah adat Mekko menyampaikan sambutannya. Selama ini, ia telah berperan banyak dalam tata ruang dan perencanaan pembangunan tanah adatnya yang selaras dengan program konservasi dan pariwisata Mekko. Tokoh masyarakat satu ini tampak menikmati pesona Mekko yang sedang cerah-cerahnya hari itu. “Pengelolaan Mekko telah ada dalam perencanaan Pemerintah, tetapi juga masyarakatnya, melalui Bangkit Muda Mudi Mekko salah satunya,” imbuhnya.

Taman Wisata Pulau Mekko adalah bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata (KSP) Sagu, 1 dari 5 KSP yang ditetapkan dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Tahun 2013-2023 yang tertuang dalam Perda No. 2 Tahun 2013.

Pemerintah memang telah menggulirkan dana yang tidak sedikit untuk memperbaiki jalan menuju Mekko yang sebelumnya sangat sulit dilalui apalagi ketika musim penghujan. Lansekap jalan berpasir dengan pemandangan Ile (Gunung) Boleng menuju Mekko sesungguhnya begitu indah. Kini di tepian jalannya, tampak sibuk pekerja bangunan mengangkut batu dan pasir, berusaha membukakan akses yang layak menuju pariwisata Mekko yang tengah berkembang bersama masyarakatnya seperti dilansir dari laman wwf.