Kisah Jatuh Bangun Pengusaha Lokal Berbisnis Hotel Budget

Kisah Jatuh Bangun Pengusaha Lokal Berbisnis Hotel Budget

KABARINDO, JAKARTA - Bisnis budget hotel mulai berkembang pesat di Indonesia seiring dengan semakin meningkatnya perkembangan tren budget travelers, yaitu kelompok wisatawan yang menempatkan anggaran dan biaya sebagai pertimbangan nomor satu, terutama dalam memilih akomodasi dan transportasi. Tren ini memunculkan pengusaha-pengusaha baru di industri perhotelan pada tingkat lokal.

 
Hasil survey RedDoorz pada masa liburan sekolah 2023, menemukan bahwa 96% wisatawan Gen-Z, Milenial, dan Gen-X memilih hotel dengan mempertimbangan harga yang terjangkau, selain faktor lokasi yang strategis dan kenyamanan. CEO RedDoorz, Amit Saberwal, mengungkap jika Indonesia merupakan negara dengan karakteristik budget traveler tinggi sehingga menjadi pasar yang besar untuk industri budget hotel, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Meningkatnya tren budget hotel ini kemudian memunculkan pengusaha-pengusaha lokal yang sukses mengembangkan bisnis budget hotel.  Mereka adalah para pemilik properti yang bekerja sama dengan operator budget hotel, seperti RedDoorz. Salah satunya adalah Ruri Noviani (43), pemilik dari 2 hotel RedDoorz di kawasan Depok, Jawa Barat.

Jadi Langganan Karyawan Pabrik dan Mahasiswa
Pada tahun 2016, Ruri memutuskan untuk pensiun dini dari profesinya sebagai manajer keuangan di sebuah perusahaan swasta di Jakarta dan mulai merintis bisnis katering rumahan. “Orangtua kemudian memberi saya kepercayaan untuk mengelola losmen milik keluarga yang sudah beroperasi sejak tahun 2005,” katanya.  Alhasil ia pun harus membagi waktu antara menjalankan bisnis katering dan losmen.

Menjalankan bisnis losmen ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Apalagi ibu dari dua orang anak ini tak memiliki latar belakang atau pendidikan bisnis perhotelan sebelumnya. Namun itu tak menyurutkan semangatnya untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orangtuanya.  “Tantangannya adalah lokasi losmen kami berada di sekitar kawasan industri dan kampus di Jalan Raya Bogor, bukan kawasan wisata,” jelasnya. 

Ia pun mulai mempelajari target market di sekitar losmen. “Dulunya, losmen saya sering dijadikan akomodasi menginap ketika perusahaan-perusahaan mengadakan pelatihan untuk karyawannya dari luar kota,” jelasnya. Tak mau kehilangan pelanggan setia, Ruri pun kembali melakukan pendekatan dengan perusahaan-perusahaan tersebut. “Saya mulai menyebar brosur dan menyambung kembali silaturahmi dengan perusahaan-perusahaan tersebut yang sempat terputus,” katanya.

Pada tahun 2018, Ruri memutuskan untuk mengikuti perkembangan zaman dengan mendigitalisasi hotelnya melalui kerjasama dengan RedDoorz. Ia mengubah losmennya menjadi Hotel RedDoorz Plus Near Universitas Indonesia. Melalui dukungan sistem reservasi online yang diberikan RedDoorz, dalam jangka waktu dua tahun saja Ruri akhirnya bisa menambah jumlah kamar. “Dari awalnya 23 kamar menjadi 33 kamar,” katanya. 

Tak hanya itu, setelah puas dengan Hotel RedDoorz Plus Near Universitas Indonesia, ia pun menambah  satu properti lain yang juga dipercayakan kepada salah satu multi-brand RedDoorz dalam bentuk sewa kamar kos, yaitu KoolKost Taman Duta. Karena lokasinya cocok dengan karakteristik kawasan yang banyak pabrik dan kampus, maka KoolKost milik Ruri pun jadi buruan karyawan dan mahasiswa. “Kunci dalam menjalankan bisnis hotel ini adalah selalu positive thinking pada tamu dan menjaga kepercayaan mereka,” tutupnya.

Bertumbuh di Tengah Persaingan
Selain Ruri, pengusaha lokal yang juga tengah menikmati tren bisnis budget hotel adalah Phie Hengky (56), pemilik 3 hotel RedDoorz di Makassar, Sulawesi Selatan. Pria yang akrab disapa Hengky ini sejak tahun 2000 mulai menggeluti bisnis sebagai kontraktor pembangunan Rumah Toko (Ruko). Ia mengaku awalnya tak memiliki minat untuk terjun ke bisnis budget hotel. “Karena saya sangat awam dan tak memiliki pengalaman sama sekali tentang bisnis hotel,” ceritanya. 

Apalagi, menurut Hengky, sebagai salah satu destinasi wisata internasional, Makassar sudah banyak berdiri berbagai jenis hotel, mulai dari hotel bintang lima hingga sekelas budget hotel. “Bisa dibayangkan persaingan industri hotel di Makassar yang sangat ketat, sehingga tidak memungkinkan untuk saya menjalankan bisnis itu,” katanya. 

Namun, minatnya kemudian berubah manakala ia mengenal RedDoorz. Setelah tertarik dengan bentuk kerjasama yang ditawarkan, pada tahun 2020 ia pun memberanikan diri mengubah salah satu Ruko yang terbengkalai selama lima tahun untuk dijadikan hotel, diberi nama Hotel RedDoorz Graha Cemerlang dengan 21 kamar.

Ketika hotelnya baru beroperasi beberapa bulan, ia harus menghadapi tantangan karena pandemi Covid-19. Ketika itu, pemerintah menetapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berdampak besar bagi bisnis pariwisata dan perhotelan. “Hotel benar-benar sepi tamu, kami tak memiliki pemasukan sama sekali sementara harus tetap mengeluarkan biaya operasional hotel dan gaji pegawai,” jelas Hengky. 

Meski mengaku sangat terpukul dengan keadaan tersebut, Hengky tak mau cepat putus asa menjalankan bisnis hotelnya. Selama enam bulan pertama ia harus mensubsidi biaya operasional hotelnya.  Ia juga meyakini bahwa bisnis ini pasti akan menguntungkan. Terbukti ketika aturan PPKM selama pandemi Covid-19 dicabut, rata-rata okupansi hotelnya mulai menanjak naik hingga 70 persen per hari.  

Pada tahun 2022, Hengky pun menambah satu properti lainnya untuk bekerjasama dengan RedDoorz, yaitu RedDoorz near Mall Ratu Indah 3 Makassar yang memiliki 28 kamar. Tingkat okupansi hotel ini rata-rata mencapai 70-80% per hari.

Kini dua properti tersebut memiliki performa yang baik dengan rata-rata penjualan 650 kamar per bulan. Menurut Hengky, bisnis hotel adalah bisnis jasa karena itu harus mengutamakan pelayanan dan kepercayaan. “Saya selalu menekankan kepada karyawan hotel agar terus menjaga kepercayaan dan memberikan pelayanan yang terbaik untuk semua tamu,” katanya.  

Bisnis budget hotel telah menjadi peluang bisnis baru bagi pengusaha-pengusaha lokal dan pemilik properti. Sejak tahun 2015 hingga saat ini RedDoorz telah menggandeng 2,700 mitra properti dengan jumlah properti mencapai lebih dari 3,200 di 257 kota di Indonesia. Para mitra properti ini mendapatkan dukungan penuh dari RedDoorz mulai dari sistem reservasi online, promosi marketing, customer service 24/7, pelatihan SDM, hingga konsultasi, dimana mitra properti cukup hanya menjalankan operasional hotel saja.
***

Tentang RedDoorz:
RedDoorz, platform multi-brand perhotelan dan akomodasi terbesar di Asia Tenggara, perusahaan perhotelan berbasis teknologi yang menawarkan akomodasi terjangkau untuk semua orang. Dengan visi untuk memungkinkan orang melakukan lebih banyak perjalanan dan memberikan penginapan yang terjangkau serta dapat diandalkan di semua kota besar dan tujuan di seluruh wilayah, RedDoorz berinovasi di industri perhotelan dengan mengubah inventaris persediaan yang terfragmentasi menjadi akomodasi bermerek, terstandar dan memanfaatkan aplikasi seluler dan saluran digitalnya untuk mendorong permintaan konsumen yang kuat.

Perusahaan ini didirikan pada tahun 2015 dan telah tumbuh menjadi pusat kekuatan regional yang beroperasi di Indonesia, Singapura, Filipina, Vietnam dan Thailand. Perusahaan ini telah berkembang lima kali lipat dari tahun ke tahun.

Sebagai bagian dari jaringan multi-brand RedDoorz, pemilik hotel dapat mengembangkan bisnis mereka dan meningkatkan pendapatan sambil mengembangkan operasi mereka. Solusi RedDoorz membantu mitra mengelola distribusi, harga, pemasaran, pengalaman pelanggan, dan teknologi - menawarkan platform canggih yang didukung oleh infrastruktur teknologi yang memadai. Foto: Dok. RedDoorz