Konsistensi dan Kolaborasi Menjadikan INPP Sebagai Ikon Pengembang Luxurious Property di Indonesia
Plaza Indonesia menjadi ikon luxurious property di Indonesia. (FOTO : KABARINDO COM/ANTON C).
____
JAKARTA – Rully Cahyadi asyik menikmati kopi Americano di salah satu tenant yang membuka kedai kopi di samping lobby Thamrin, Plaza Indonesia sore ini (13/4/2026) . Kopi yang diracik dari espresso yang dicampur air panas di kedai kopi Tanah Merah itu menjadi menu favoritnya saat pulang bekerja. Rully mengaku bekerja di kantor perusahaan penerbangan asing di jalan MH Thamrin. “Kantor saya di seberang itu,”ujarnya menunjuk gedung Plaza Bank Index.
Bagi Rully dan kawan-kawannya. Kawasan kompleks Plaza Indonesia dan sekitarnya tak sekadar tempat hangout, tetapi memiliki fungsi beragam. “Agent meeting biasa dilakukan kantor saya di Grand Hyatt,”imbuhnya.
Menurut pria yang sudah lima tahun bekerja di maskapai asing itu, Plaza Indonesia menghadirkan kenyamanan berekelas dengan beragam pilihan tempat makan, belanja hingga kebutuhan gaya hidup lain. “Banyak tenant yang hanya buka di tempat ini (Plaza Indonesia),”imbuhnya.
Hospitality khas mal papan atas dirasakan Rully tetap terjaga hingga kini. “Tempat ini paling prestisius di Indonesia,”katanya. Beberapa tenant yang hanya menjual barang eksklusif juga hadir di Plaza Indonesia. Seperti brand Jepang, Bape, juga Adidas Originals Concept Store. Dari luxury brand, ada merek papan atas Christian Louboutin yang membuka satu-satunya gerai di Indonesia hanya di Plaza Indonesia. “Altitude di The Plaza juga tempat hangout yang nyaman. Kita bisa melihat suasana jalan Thamrin dan Sudirman sembari dinner atau lunch. Atmosfernya sangat menenangkan. Tempat ini belum ada tandingannya menurut saya,”tutup Rully.

Kawasan Plaza Indonesia, dikelola oleh PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP). Dengan usia hampir seperempat abad, perusahaan ini berhasil mengukuhkan posisinya sebagai penguasa properti mewah melalui tiga aset ikonik yakni Plaza Indonesia, The Plaza Office Tower, dan Grand Hyatt Jakarta. Ketiganya bukan sekadar properti mixed use, tetapi juga simbol prestise yang membentuk ekosistem gaya hidup kelas atas di pusat Jakarta.
Dengan lokasi strategis di Bundaran HI, integrasi ketiga aset ini menciptakan standar baru bagi kenyamanan dan eksklusivitas. Plaza Indonesia tetap menjadi destinasi belanja ritel high-end, sementara Grand Hyatt menawarkan akomodasi legendaris dengan layanan kelas dunia. Didukung oleh The Plaza yang menjadi pusat perkantoran elite, INPP berhasil menjaga relevansi ketiga tempat ini sebagai wajah kemewahan Indonesia di mata internasional.
Pakar marketing yang juga Managing Partner Inventure Yuswohady kepada Kabarindo.com mengungkapkan, kawasan Plaza Indonesia menjadi magnet bagi kalangan atas Indonesia. “Untuk kalangan old money, Plaza Indonesia masih menjadi tempat yang belum ada pesaingnya,”ujarnya.
Konsistensi pada detail dan inovasi yang dilakukan INPP dinilainya menjadi nilai lebih. INPP tidak hanya menghadirkan fitur dan layanan, tapi pengalaman. Plaza Indonesia, The Plaza, dan Grand Hyatt dirancang untuk saling melengkapi dalam satu ekosistem yang bernapas kemewahan setiap saat. “Pasar segmen old money ini masih besar. Mereka membutuhkan lokasi yang sesuai dengan gaya hidup mereka,”tuturnya.
Konsistensi menjaga nilai timeless dengan melakukan pendekatan emosional dan standar layanan yang tak tertandingi membuat properti yang dikelola INPP itu tetap menjadi pilihan pertama bagi mereka yang menghargai kualitas hidup terbaik.

Strategi Integrated Mixed-Use menjadi senjata INPP dalam menghadirkan beragam proyek properti di Indonesia. Kemampuan perusahaan menyatukan tiga pilar utama yakni hotel, mal, dan hunian dalam satu kawasan terpadu (one-stop living) bukan sekadar konsep, melainkan wujud dari integrasi aset yang saling terkoneksi.
Filosofi di balik strategi INPP ini sejatinya cukup sederhana namun jitu. Manajemen INPP meyakini premis bahwa kesuksesan sektor ritel akan menjadi magnet yang menarik trafik bagi hotel. Ketika ritel dan hotel telah mencapai standar emas keberhasilan, hal tersebut secara otomatis akan mendongkrak permintaan serta nilai keunikan hunian di dalamnya. Dengan ekosistem yang mapan, hunian bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan investasi bergengsi dengan nilai tambah yang sulit ditandingi oleh proyek tunggal.
INPP awalnya adalah perusahaan yang berkecimpung di perhotelan pada 2002. Lalu tahun 2010-2012 INPP mulai melengkapi menjadi pengembang dan pengelola hotel dan mall, dan pada 2017 mulai masuk ke hunian highrise.
Saat ini, INPP memfokuskan strategi pada penguatan portofolio bisnis untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. INPP menyiapkan pengembangan proyek komersial di Semarang serta meninjau peluang peningkatan eksposur di Balikpapan. Selain itu, perusahaan terus mengoptimalkan aset yang telah beroperasi untuk menjaga kontribusi pendapatan berulang di kisaran 70%.
“Sekarang yang perlu diramu adalah bagaimana menghadirkan produk properti untuk semua kalangan. Termasuk mengakomodir kebutuhan orang kaya baru dari generasi Z. Sebab, kebutuhan mereka tentu berbeda dengan para old money dari generasi boomers atau milenial,”kata Yuswohady. Dia menilai, kolaborasi yang dilakukan INPP dengan pihak lain menjadi peluang untuk mengakomodir semua lapisan masyarakat. “Sekarang kan tren nya ke arah kultur Jepang dan Korea, itu bisa dimaksimalkan. Sehingga semua kalangan bisa diakomodir,”tegasnya.

Terus Berkolaborasi
INPP telah lama menjadi wajah gaya hidup papan atas, mulai dari kemegahan Grand Hyatt Jakarta dan Plaza Indonesia, hingga ikon yang merakyat seperti fX Sudirman dan Beachwalk Bali.
Menyadari dinamika pasar yang kian inklusif, INPP kini memperluas jangkauannya untuk menyasar seluruh spektrum masyarakat. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pengembangan produk yang lebih adaptif bagi generasi milenial. Sebagai kelompok demografis yang akan mendominasi masa depan, para pencari hunian dan ruang kreatif muda kini menjadi fokus baru INPP dalam menghadirkan properti berkualitas yang tetap terjangkau namun tetap mengusung standar keunggulan perusahaan.
Presiden Direktur INPP Anthony P. Susilo mengatakan, INPP menetapkan strategi intensifikasi dan penguatan portofolio bisnis dengan fokus pada recurring income (pendapatan berulang) dan pengembangan proyek mixed-use di kota-kota besar.
Selain penyelesaian 23 Semarang Mall, INPP juga mulai menggarap proyek 88 Plaza Balikpapan. “Kami optimistis dapat terus tumbuh berkelanjutan melalui pengembangan ekspansi secara terukur di wilayah potensial, serta dengan memanfaatkan keunggulan proyek gaya hidup ikonik di setiap bangunan kami,”tegasnya.
Anthony menambahkan,untuk mendukung intensifikasi dan ekspansi portofolio INPP, perseroan menganggarkan belanja modal (capex) sekitar Rp400 miliar pada tahun 2026, dengan porsi terbesar, hingga 69%, ditujukan untuk segmen komersial.
Sementara itu, renovasi dan pembaharuan hotelnya akan memakan 10% total anggaran, dan penjualan properti diproyeksikan akan menggunakan 21% capex 2026.

Sejak pertama dibentuk pada tahun 2002, INPP senantiasa terdorong oleh keinginan untuk mengembangkan ruang-ruang yang mampu menyajikan lebih dari sekedar aspek visual dan fungsional. Untuk itu, INPP selalu mencari cara yang baru dan menarik untuk memastikan kebahagiaan pelanggan, melalui proyek yang sesuai dengan kebutuhan setempat.
Dengan demikian, INPP dikenal sebagai developer yang senantiasa melahirkan proyek-proyek visioner. Ruangan yang di bentuk selalu menyajikan pengalaman yang unik, sehingga tidak mudah dilupakan dan orang terdorong untuk kembali.
Proyek-proyek gaya hidup yang dikembangkan, dirancang untuk menginspirasi dan mengembangkan destinasi gaya hidup ikonik yang membentuk interaksi sosial masyarakat dan memperkaya komunitas.
INPP, lanjut Anthony, menghadirkan tempat yang nyaman dan pelayanan yang hangat di setiap properti yang dikembangkan.
“Kami menciptakan momen tak terlupakan melalui properti yang melampaui kesan visual dan fungsional,”tegasnya.
INPP berkomitmen untuk mengambil bagian dalam peningkatan kesejahteraan sosial, ekonomi, dan lingkungan dari seluruh pemangku kepentingan.
Anthony menegaskan, INPP sudah memiliki kiprah 20 tahun lebih menghasilkan produk-produk lifestyle ikonik seperti Plaza Indonesia, fX Sudirman, Keraton The Plaza, Sheraton Bali Kuta Resort, Harris Resort Waterfront, Beachwalk Shopping Center-Bali, One Residence Batam, 31 Sudirman Suites & Hotel Hyatt Place Makassar, dan sebagainya. Sebagian besar, produk properti itu dikembangkan melalui kolaborasi.
Kedepan, INPP akan terus melakukan kolaborasi menghadirkan ikon-ikon properti baru. INPP telah menjalin kerjasama strategis dengan Hankyu Hanshin Properties untuk pengembangan kawasan komersial di kompleks Sahid Kuta Lifestyle Resort, Bali. Dengan memanfaatkan keunggulan masing-masing, kolaborasi ini diharapkan dapat membawa kedua pihak pada tujuan yang sama yaitu mendoront pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didukung oleh tingginya potensi populasi. INPP akan tetap memegang kendali atas operasional dan pengelolaan properti di kawasan itu.
Kawasan komersial yang dikembangkan merupakan kompleks properti yang terletak di Jalan Pantai Kuta, Bali, sebuah lokasi yang dikenal akan keindahan pantainya serta menjadi pusat kegiatan olahraha laut. Di kawasan tersebut INPP memiliki 5 unit bisnis dalam konsep
Mixed use properties, yaitu beachwalk Shopping Center, hotel Sheraton Bali Kuta Resort, dan hotel Aloft Bali Kuta at beachwalk, yang dioperasikan oleh Marriott International, dan Yello Hotel Kuta Beachwalk Bali, dan beachwalk Residence, yang dioperasikan oleh Ascott Group.
Sedangkan Direktur INPP Surina mengatakan, INPP menargetkan pendapatan usaha naik hanya 5-10% di 2026 tahun ini, dengan kontribusi penjualan properti kembali ke level normal di 24%, sementara segmen komersial dan perhotelan masing-masing menyumbang 38%.
Sehingga, target recurring income juga meningkat menjadi 76% dari total pendapatan Perseroan di akhir 2026.
Hal ini, menurut Surina, akan didorong oleh rampungnya pembangunan Mall 23 Semarang pada kuartal II 2026 dan peluncuran mall di ibukota Jawa Tengah yang direncanakan pada tahun ini.
Comments ( 0 )