Selebriti Dunia dan Tokoh Agama Serang Balik Trump
DMITV, JAKARTA--Gelombang kritik keras datang dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh agama hingga selebriti dunia, menyusul unggahan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menampilkan dirinya dalam gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) menyerupai Yesus Kristus.
Gambar tersebut, yang sempat diunggah di platform Truth Social, langsung memicu reaksi luas. Banyak pihak menilai konten tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap simbol keagamaan, bahkan menyebutnya sebagai tindakan penghujatan.
Kritik tidak hanya datang dari pihak yang selama ini dikenal berseberangan dengan Trump, tetapi juga dari kalangan yang sebelumnya berada dalam spektrum politik yang sama. Sejumlah tokoh agama menilai unggahan tersebut telah melampaui batas etika dan sensitivitas keagamaan.
Aktivis Kristen Sean Feucht secara terbuka meminta agar gambar tersebut segera dihapus. Ia menegaskan tidak ada konteks yang dapat membenarkan penggunaan simbol keagamaan secara demikian. Pernyataan serupa juga disampaikan oleh sejumlah pemuka agama lainnya yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pelecehan terhadap keyakinan umat.
Dari kalangan selebriti, kritik datang dengan nada yang tidak kalah keras. Komedian Jon Stewart dalam program The Daily Show menyindir alasan yang disampaikan Trump terkait unggahan tersebut. Ia mempertanyakan logika di balik penjelasan Trump yang menyebut gambar itu sebagai representasi dirinya sebagai “dokter” yang menyembuhkan.
Musisi rock Jack White bahkan melontarkan kritik lebih tajam. Ia mempertanyakan bagaimana seseorang yang mengaku sebagai penganut Kristen masih dapat mendukung tindakan semacam itu. Dalam pernyataannya, White juga menyinggung berbagai kontroversi lain yang melibatkan Trump, mempertegas penilaiannya terhadap figur presiden tersebut.
Reaksi keras juga datang dari pengamat dan tokoh Katolik. Pakar kepausan Massimo Faggioli menilai serangan simbolik terhadap Paus dan penggunaan citra keagamaan dalam konteks politik sebagai sesuatu yang tidak lazim, bahkan dalam sejarah hubungan kekuasaan modern.
Tekanan publik yang terus meningkat akhirnya mendorong Trump menghapus unggahan tersebut. Namun, ia tetap menolak untuk meminta maaf. Trump berdalih bahwa gambar itu dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai sosok yang “menyembuhkan orang”, bukan sebagai figur religius.
Penjelasan tersebut justru memicu lebih banyak skeptisisme. Sejumlah pengamat menilai alasan itu tidak sejalan dengan visual yang ditampilkan, yang dinilai sangat menyerupai ikonografi religius tentang Yesus.
Comments ( 0 )