Kualifikasi Piala Dunia: Jepang Hapus "Air Mata" Indonesia

Kualifikasi Piala Dunia: Jepang Hapus "Air Mata" Indonesia

Oleh: Sabpri Piliang
WARTAWAN SENIOR

    YOMIURI SHIMBUN mengangkat tajuk (opini) menarik. "Jepang Harus Memperkuat Hubungannya dengan Asia Tenggara". 


    Media terbesar Jepang (1874), dengan oplah 10 juta eksemplar per "day" ini. Merilis tulisan mantan Dubes Jepang untuk PBB (2004-2006) dan Profesor emeritus di Universitas Tokyo, Shinichi Kitaoka (21/3).


     Tak ada jalan lain, Asia Tenggara yang perekonomiannya melampaui Uni Eropa. Adalah "kunci" dan "kartu truf" Jepang, terhadap perilaku Donald Trump  yang mengejutkan. Sekaligus membingungkan tatanan perekonomian inklusif.


     Kitaoka berpandangan, Trump telah mengabaikan konsensus internasional. Tentang perdagangan dan tarif yang dipersenjatai. Ada hukum dan aturan internasional yang berlaku, namun Trump kurang menghargai.


      Perhimpunan bangsa Asia Tenggara (ASEAN), sangat penting bagi Jepang. ASEAN sangat percaya kepada Jepang dan memiliki hubungan yang erat. Sejak lama, dan langgeng.


     Jepang telah menyalurkan bantuan finansial kepada negara-negara ASEAN $ 1,354 miliar (1997), sampai kini. Baik dalam bentuk bilateral. Maupun multilateral. 


      Sekalipun ada "raksaksa"  Tiongkok, dengan  pengaruh signifikan di ASEAN. Namun Jepang lebih membumi dan mendapat tempat spesial di hati masyarakat ASEAN.


     Konsep Donald Trump lewat semboyan "American First" (mengutamakan kepentingan AS semata), pun sangat anomali dengan draf ekonomi Jepang di Asia Tenggara. Jepang-ASEAN mempunyai perjanjian perdagangan bebas (AJCEP) yang lebih 'simbiosis mutualisme', bukan semata 'simbiosis komensalisme'.


     Itu ditambah lagi dengan, eksistensi ekonomi Jepang di ASEAN, terutama Indonesia. Minim intrik, minim kecurigaan dari berbagai sudut pandang ('angle'). Jepang memberi "hedging" (lindung nilai) pada perekonomian Indonesia.


    Tak salah, bila mobil-mobil Jepang lewat ASTRA Internasional (holding) "menggumuli" (mendominasi) jalan-jalan di Indonesia:  Daihatsu, Isuzu, Toyota. Plus Honda, dll.


      Di samping itu, Jepang juga membiayai proyek-proyek infrastruktur  di Indonesia: kelistrikan (PLTA), pelabuhan, jalan, kereta api dll. Tentunya dengan syarat ringan, dan bunga rendah.


     Negeri "Matahari Terbit" ini, punya historis pendudukan di Indonesia (1942-1945), sama seperti Belanda (1602-1945). Keduanya memiliki kepentingan untuk memajukan Indonesia dari berbagai lini. 


      Proyek infrastruktur dan ekonomi, telah lama Jepang berkontribusi terhadap Indonesia. Tak ada yang ragu.


      Mengibaratkan laut. Negeri ini teringat dengan "perpustakaan air mata", dalam sejarah pendudukan Jepang di Indonesia. Karena itu, Jepang ingin menghapus "air mata", dengan "menggendong" Indonesia ke Piala Dunia (2026).  Semoga saja!


     Sebagai negara pertama di luar "tuan rumah" (AS-Kanada-Meksiko), yang telah memastikan lolos ke Piala Dunia FIFA 2026 dengan 20 poin. 


     Jauh di lubuk hati 300 juta populasi bangsa Indonesia, berharap. Jepang dapat membantu meloloskan Indonesia, dengan cara terhormat. Bukan dengan "Sepak bola Gajah". Atau bermain tidak serius.


      Ada semacam "halusinasi" dan "fictious" dalam pikiran penulis. Akan ada pembicaraan di tingkat "G to G", berlanjut antar-federasi, lalu di level "coach". Agar Jepang mau memberi kesempatan kepada pemain pelapisnya (bukan utama), ketika berhadapan dengan Indonesia pada "matchday" ke-10  (10 Juni mendatang).


      Di sisi lain, Tim Samurai Biru, tetap memainkan pemain utama: Takefusa Kubo, Wataru Endo, Ayase Ueda, Koki Ogawa, Ko Itakura, Takumi Minamino, Kaoru Mitoma, dll, saat berhadapan dengan Australia di "matchday" ke-9 (5 Juni nanti). Hanya itu harapannya!


       Kualifikasi Piala Dunia zona Asia (C), mendekati babak akhir. Menyisakan masing-masing dua laga: Australia vs Jepang, Indonesia vs China, Arab Saudi vs Bahrain, China vs Bahrain, Jepang vs Indonesia,  Arab Saudi vs Australia.


        Terkecuali China dan Bahrain. Australia, Arab Saudi, dan Indonesia, masih berkesempatan lolos langsung (dua besar) mendampingi Jepang (sudah lolos).  Dengan peluang terbesar adalah Australia.


    Jepang dan Arab Saudi akan menjadi kunci lolosnya Indonesia,  mendampingi Jepang. Tanpa perlu lagi berkompetisi di putaran ke-4. Syaratnya, Jepang kalah dari Indonesia, Arab Saudi mengalahkan Australia. Jepang menang/draw  dengan Australia, Plus Arab Saudi draw dengan Bahrain.


       Artikel Shinichi Kitaoka yang terbit (21/3) di Yomiuri Shinbum (Japan News), atau sehari setelah "matchday" ke-7: Jepang vs Bahrain (2-0). Seperti mengingatkan! Timnas Jepang harus membantu Jay Idzes dkk.


       Siapa tahu terbukti!