Salah Kaprah Soal Ekowisata, Pahami 4 Faktanya

Salah Kaprah Soal Ekowisata, Pahami 4 Faktanya

JAKARTA, Kabarindo.com : Ecotourism atau ekowisata sedang naik daun. Traveler masa kini suka mencari ketenangan di alam. Alexander Thian, storygrapher dan penulis yang dikenal dengan nama Amrazing, seperti menemukan energi baru, sepulang dari traveling di alam. Ia bercerita, suatu kali ia mendaki Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, bersama teman-temannya. Ia pernah menikmati makan siang di alam Rinjani, lalu merebahkan diri di tanah beralas daun-daun kering yang berjatuhan. Sambil merasakan udara yang sangat segar. Ia mendengarkan suara angin yang kemerisik, berpadu dengan suara aliran sungai. “Aku pikir, kapan lagi bisa seperti ini? Kalau mengingat momen itu, rasanya sampai mau menangis.”

Diyah Deviyanti, Project Coordinator Hutan Itu Indonesia (HII) menceritakan pengalamannya, ketika traveling ke destinasi ekowisata Tangkahan, yang tercakup dalam Taman Nasional Gunung Leuser. Diyah benar-benar merasakan kedamaian di tengah hutan yang keasliannya masih sangat dijaga, menyusuri jalan setapak kecil, sesekali terkena ranting pohon yang menjuntai. Ia menikmati air terjun yang airnya memang benar-benar jatuh secara alami, yang sekitarnya masih natural, tidak dengan sengaja ditambahkan spot untuk berfoto.

“Begitulah gambaran destinasi ekowisata yang sesungguhnya. Pengelola tidak mengubah fungsi hutan sebagai sumber oksigen dan sumber kehidupan masyarakat sekitar. Tidak ada pembangunan fasilitas yang mengubah atau merusak ekosistem. Tak perlu takut, tempat seperti ini sangat aman, karena kita ditemani pemandu. Apalagi, sebelum perjalanan kita diberi informasi tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan,” kata Diyah.

Tak berlebihan jika hutan juga disebut baik bagi kesehatan mental. Hutan didominasi oleh vegetasi pohon. Keberadaan pohon dapat menurunkan suhu dan kebisingan, serta memberikan oksigen bagi manusia. Hutan juga memiliki berbagai jenis flora yang menghasilkan aroma yang menciptakan sensasi kenyamanan bagi raga. Selain itu, hutan merupakan habitat bagi burung-burung. Paduan suara burung, air, dan angin dapat memberikan ketenangan jiwa bagi manusia.

Meski sedang begitu digemari, belum semua traveler memahami benar tentang ekowisata. Apa saja salah kaprah tentang ekowisata yang #MudaMudiBumi perlu ketahui?

 

1. Wisata alam pasti ekowisata

Banyak di antara kita mungkin berpikir, jalan-jalan ke taman, kebun raya, air terjun, hutan, apalagi taman nasional, sudah pasti berkonsep ekowisata. Soalnya, kan, jalan-jalannya di alam. Ternyata, tidak selalu begitu. Diyah menjelaskan, memang betul bahwa ekowisata itu berwisata ke alam terbuka. “Tapi, ekowisata menyimpan pesan bahwa wisatawan juga ingin mendapat pengetahuan tentang alam, tentang budaya, juga tentang masyarakat lokalnya. Satu hal yang pasti, kegiatan kita sebagai wisatawan, maupun kegiatan yang dilakukan oleh pengelola tempat wisata, tidak merusak alam. Sekalipun hutan atau taman nasional, jika pengelolaannya mengganggu ekosistem, tempat itu tak bisa disebut destinasi ekowisata.”

Ada hal mendasar yang membedakan destinasi ekowisata dan tempat wisata secara umum, yaitu fasilitas pendukung. Di tempat wisata umum, meski menampilkan keindahan alam, biasanya terdapat bermacam fasilitas untuk mendukung kenyamanan pengunjung. Misalnya, toilet dan tempat makan. Diyah menyoroti, ketika membangun fasilitas tersebut, terkadang pengelolanya lupa memperhatikan ekosistem.

“Di destinasi ekowisata, Anda tidak akan menemukan fasilitas pendukung. Karena, tujuan ekowisata adalah melindungi kealamian suatu lingkungan, sekaligus menyejahterakan masyarakat sekitar. Kita bisa membantu kesejahteraan mereka dengan membeli produk buatan mereka, misalnya madu hutan, atau menggunakan jasa penduduk lokal sebagai guide,” kata Diyah.

Alex juga kerap menggunakan jasa porter sebagai bagian dari kontribusinya terhadap perekonomian warga lokal. “Wisatawan juga bisa lebih membantu kalau menyewa tenda dari mereka dan minta dibuatkan makanan.”

 

2. Ekowisata itu murah

Kita mungkin berpikir, karena traveling ke alam, artinya tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menginap di hotel dengan fasilitas bagus atau untuk makan di resto. Jadi, sudah pasti biayanya akan lebih murah daripada jalan-jalan ke kota.

Rupanya anggapan ini tak benar. Ekowisata justru cenderung memakan banyak biaya. Diyah mencontohkan, kalau suatu tempat wisata dibuka secara besar-besaran, tiket masuknya akan lebih murah. Sedangkan pada destinasi ekowisata yang jumlah pengunjungnya dibatasi, biayanya akan lebih tinggi. “Pembatasan pengunjung penting dilakukan agar alam tidak rusak. Dampaknya, pemasukan pengelolanya juga terpengaruh. Dana ini bukan hanya untuk pengelola, melainkan disebar untuk berbagai aspek. Sebagian besar untuk pemeliharaan tempat, sebagian juga untuk kas pemberdayaan masyarakat.”

Pertanyaannya, kalau alamnya dibiarkan alami dan tempat itu tak punya fasilitas yang perlu dirawat, mengapa perlu banyak dana untuk pemeliharaan? Diyah menjelaskan, justru karena tempat itu merupakan tempat alami, banyak orang bisa asal saja mengambil sesuatu dari hutan. Misalnya, mengambil kayu. Agar hal seperti itu tidak terjadi, perlu ada penjaga hutan atau ranger. Ada pula yang bertugas untuk membersihkan jalur jalan, misalnya ketika ada pohon yang tumbang karena angin. Mereka akan memotong batang pohon, sehingga jalanan bisa dilewati oleh warga.

Diyah menjamin, meski terbilang cukup mahal, pengalaman pergi ke area berkonsep ekowisata pasti akan sepadan dengan biayanya.

 

3. Kegiatan di lokasi ekowisata tak beda dari tempat wisata umum

Kalau sama-sama ke hutan, meski yang satu menerapkan konsep ekowisata dan satunya lagi tidak, artinya kegiatan yang bisa dilakukan akan sama saja. Tidak demikian, kok. Di lokasi wisata berkonsep ekowisata, Anda juga bisa melakukan banyak kegiatan yang menyenangkan.

Diyah bercerita, ketika pergi ke Tangkahan, ia menemukan hutan yang masih sangat alami. Tidak dibuat apa-apa di dalamnya. Ada jalan setapak tanah yang kecil, tanpa dilapisi bebatuan. Di tengah hutan ia bertemu babi dan monyet. Di ujung hutan terdapat sebuah sungai. “Kami kembali lagi ke perkampungan dengan duduk di ban, bukan speedboat. Jadi, tidak ada kegiatan yang merusak alam.”

Bagi pengunjung, tersedia rumah-rumah ramah lingkungan yang dilengkapi toilet. Pengunjung bisa memilih akan menginap di bangunan yang sudah disediakan warga, atau homestay di rumah warga. “Menginap di hutan juga bisa. Ada area yang bisa digunakan untuk membangun tenda, tanpa membuka lahan. Di area sungai sering kali ada area bebatuan yang bisa dijadikan lokasi kemping. Atau, ada sejumlah area lapang di bawah pepohonan,” kata Diyah.

Beberapa tahun lalu, Alex sempat menikmati kawasan ekowisata Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Lokasinya benar-benar jauh dari perkotaan. Di sana ia bisa menikmati sungai dan hutan, melihat orangutan, memandangi jamur-jamur yang menyala di malam hari. Ia menikmati makan malam di kapal, sambil ditemani begitu banyak kunang-kunang. “Ketika malam, aku suka naik ke bagian atas boat. Dari atas tak ada polusi cahaya sama sekali. Bintang bertaburan di langit. Pemandangannya bagus banget.”

 

4. Eco-friendly traveling sama dengan ecotourism

Karena sama-sama ada kata ‘eco’, dan sama-sama mengandung unsur wisata, maka tak sedikit yang menyangka bahwa eco-friendly traveling sama dengan ecotourism. Sebenarnya tidak sama. Eco-friendly traveling lebih pada rasa kepedulian atau tanggung jawab sebagai traveler terhadap lingkungan.

Namun, Diyah melihat ada benang merah di antara keduanya, yaitu sama-sama peduli terhadap alam. Hanya, caranya saja yang berbeda. Ia mencontohkan perilaku eco-friendly traveling. Ketika kita pergi dengan pesawat, artinya ada jejak karbon yang cukup besar. Maksudnya, ada karbondioksida dari pesawat yang dihasilkan dan berpotensi menyebabkan polusi. Kalau kita paham soal eco-friendly traveling, kita punya tanggung jawab untuk ‘mengganti’ pelepasan karbon tersebut. Salah satu caranya adalah mengadopsi pohon yang sudah cukup besar dan telah menghasilkan banyak oksigen.

Diyah juga menegaskan bahwa perilaku traveling ramah lingkungan wajib diterapkan saat berada di lokasi ekowisata. Saatnya #TimeforActionIndonesia bagi kita untuk bergerak. “Jangan sampai lokasi yang sudah benar-benar dijaga malah dikotori oleh sampah. Jangan pula mengukir-ukir dan menulis sembarangan. Memang di destinasi ekowisata banyak sekali hal-hal yang sangat bagus. Saking bagusnya, tak sedikit yang tergoda untuk mengukir nama. Percuma datang ke destinasi ekowisata, kalau ujung-ujungnya merusak juga. Harusnya kedatangan kita membuat tempat itu tetap bagus dan lestari.”

Alex juga menyayangkan perilaku tak peduli lingkungan yang dilakukan oleh wisatawan di Gunung Rinjani. Ia pernah menemukan area menghitam akibat kebakaran dari sebuah puntung rokok yang dibuang sembarangan. Ratusan meter persegi lahan tanaman edelweiss hangus terbakar. “Aku juga menemukan pohon sangat besar yang dikerat-kerat dengan pisau. Janganlah merusak alam sebagus itu. Jangan juga mengambil apa pun dari alam, termasuk bunga edelweiss. Cukup difoto saja. Bukan cuma kita yang ingin menikmati alam. Kalau kita merusaknya, generasi berikutnya bisa menikmati apa?” ungkapnya dalam IG Live yang digagas Hutan Itu Indonesia pertengahan Oktober lalu.