Tandai 4 Hiu Paus, Langkah Nyata Lindungi Raksasa Lautan Indonesia
Tandai 4 Hiu Paus, Langkah Nyata Lindungi Raksasa Lautan Indonesia
KABARINDO, SURABAYA - PT Pertamina International Shipping (PIS) berkomitmen dalam upaya konservasi populasi hiu paus (Rhincodon typus) di Indonesia melalui penandaan (tagging) 4 ekor hiu paus di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. PIS tercatat telah berhasil menandai 7 ekor hiu paus selama 2 tahun terakhir.
Proses penandaan hiu paus di perairan Derawan menggandeng Konservasi Indonesia, sebuah yayasan nasional yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan di Indonesia. Keberhasilan penandaan sejumlah individu baru hiu paus menjadi kemajuan dalam upaya studi dan observasi ikan terbesar di dunia ini. Empat hiu paus tersebut diberikan nama sesuai dengan nama kapal tanker kebanggaan PIS yaitu Pride, Prime, Bangka, Belitung.
“Tujuan utama tagging hiu paus ini adalah bagaimana kami dari PIS dapat berperan aktif dalam menjaga kelestarian fauna di Indonesia. Data yang kami kumpulkan bersama mitra yang berpengalaman diharapkan dapat mendukung upaya menjaga satwa yang penting di lautan Indonesia. Dengan demikian, kami juga bisa mengatur operasional kami, sehingga dapat berdampak positif terhadap keberlangsungan satwa tersebut,” ujar Manager CSR PIS, Alih Istik Wahyuni, pada Rabu (7/1/2026).
Salah satu tujuan penandaan hiu paus itu juga agar PIS dapat mengenali rute-rute yang biasa dilintasi oleh populasi hiu paus di Nusantara, sehingga kapal-kapal mereka dapat menghindari tabrakan rute yang sama. Dari hasil penelitian sejumlah pihak, tabrakan dengan kapal-kapal besar menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kematian hiu paus dan penurunan populasinya.
“Data yang kami dapatkan dari hasil tagging hiu paus ini akan membantu kami memetakan jalur-jalur dan migrasi hiu paus tersebut. Data ini akan kami integrasikan dengan data pelayaran yang kami punya, sehingga kami bisa meminimalisasi potensi risiko tabrakan hiu paus dengan kapal-kapal yang dioperasikan PIS. Dengan begitu, kami juga bisa berkontribusi untuk menjaga kelestarian hiu paus di Indonesia,” ujar Alih.
Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, menjelaskan saat ini populasi hiu paus di dunia menghadapi sejumlah ancaman terhadap keberlangsungan hidup mereka. Berdasarkan laporan International Union for Conservation of Nature (IUCN), hiu paus merupakan salah satu hewan yang masuk ke dalam daftar merah terancam punah sejak 2016. Ancaman tersebut diperkirakan telah menyebabkan populasi hiu paus turun lebih dari 50%. Kabar baiknya, melalui upaya pemulihan yang terus dilakukan berbagai pihak, populasi hiu paus mungkin pulih dalam 100 tahun ke depan.
“Tabrakan dengan kapal, polusi laut, perubahan iklim, tidak sengaja tertangkap, dapat menyebabkan hiu paus terdampar di bibir pantai di berbagai tempat. Hal ini menjadi perhatian para peneliti, karena menjadi faktor yang mengganggu upaya pemulihan populasi hiu paus. Dengan terus menandai individu hiu paus yang tersebar di Indonesia, termasuk di perairan Derawan, PIS dan Konservasi Indonesia dapat terus menghimpun data yang penting untuk mempelajari koridor migrasi hiu paus yang pada akhirnya dapat melindungi spesies yang terancam punah tersebut,” terang Iqbal.
Penandaan hiu paus adalah bagian dari program “Marine BiodiverSEAty” yang berada di bawah payung program “BerSEAnergi untuk Laut”, sebuah inisiatif CSR PIS di bawah pilar Environmental Preservation. Melalui program ini, PIS menegaskan komitmennya dalam melindungi hiu paus, spesies payung yang saat ini masuk dalam kategori terancam punah menurut daftar IUCN. Penandaan dilakukan menggunakan perangkat tag satelit yang memungkinkan peneliti melacak pola pergerakan, jalur migrasi dan habitat kritis hiu paus di sekitar ekosistem Derawan dan wilayah perairan Indonesia yang lebih luas.
Melalui program Marine BiodiverSEAty, PIS menegaskan komitmennya terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 14: Life Below Water, sekaligus memperkuat upaya nasional dan global dalam pelestarian keanekaragaman hayati laut. Inisiatif ini diharapkan dapat menciptakan model kolaborasi konservasi yang berkelanjutan, berbasis data dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari tingkat lokal hingga nasional.
Pada tahun lalu, kegiatan serupa juga dijalankan PIS di perairan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Kwatisore, Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Kala itu, PIS berhasil menandai 3 ekor hiu paus. Setelah sukses menandai total 7 individu hiu paus di Kwatisore dan Kepulauan Derawan, PIS akan terus melanjutkan program ini guna memperbanyak data untuk dipelajari.
“Kami akan melanjutkan program ini agar dapat memetakan risiko tabrakan kapal dengan hiu paus (Whale Shark–Ship Collision Risk Map) serta rekomendasi mitigasi dan masukan teknis bagi pengembangan SOP keselamatan laut,” ujar Alih.
Foto: istimewa
Comments ( 0 )